Survei Y Publica: Elektabilitas Jokowi Stagnan, Prabowo Naik

CNN Indonesia | Senin, 14/01/2019 23:17 WIB
Survei Y Publica: Elektabilitas Jokowi Stagnan, Prabowo Naik Calon presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo. (REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga survei Y Publica merilis survei terbaru tentang elektabilitas dua pasang calon presiden dan wakil presiden 2019. 

Hasil survei yang digelar 8 Desember 2018 hingga 8 Januari 2019 itu,  menunjukkan elektabilitas pasangan Joko Widodo-Maruf Amin masih unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Jumlah responden survei sebanyak 1.200 orang. Metode yang digunakan multistage random sampling, dan margin error sekitar 2,98 persen dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.


Direktur Y Publica Rudi Hartono menyebut elektabilitas Jokowi-Maruf sebesar 53,5 persen dan Prabowo-Sandiaga sebesar 31,9 persen. Meski unggul, ia menyebut elektabilitas Jokowi-Ma'ruf cenderung stagnan di bandingkan dengan pasangan Prabowo-Snadiaga sejak ditetapkan sebagai capres dan cawapres oleh Komisi Pemilihan Umum.

"Prabowo-Sandiaga cenderung naik tipis dari angka 28 persen ke 31 persen. Sementara swing voters cenderung di angka 14 persen," ujar Rudi dalam keterangan tertulis, Senin (14/1).

Rudi mengatakan hasil survei memperlihatkan Jokowi-Ma'ruf lebih didukung oleh responden perempuan.
Ia berkata sebanyak 54,4 persen mendukung Jokowi-Ma'ruf dan 31,6 persen mendukung Prabowo-Sandiaga.

Dukungan itu, kata dia, lantaran responden perempuan merasa Jokowi paling peduli dengan hak-hak perempuan.

"Hanya 30,2 persen yang menganggap Prabowo-Sandiaga yang paling peduli dengan hak-hak perempuan," ujarnya.

Terkait dengan dukungan perempuan, Rudi menyinggung soal narasi yang dibangun oleh kedua pasangan calon, yakni Prabowo-Sandiaga dengan narasi 'The Power of Emak-Emak' dan Jokowi-Maruf dengan narasi 'Ibu Bangsa'.

Ia menilai kedua harasi itu kurang membumi di tengah pemilih, terutama perempuan.

"Faktanya hanya 47,6 persen resonden yang mengaku mengetahui atau pernah mendengar narasi-narasi itu. Sebaliknya, 52,4 persen mengaku belum pernah dengar," ujarnya.

Di sisi lain, Rudi menyampaikan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi juga mengalami stagnan. Bahkan, ia menilai kinerja pemerintah beberapa bulan terakhir terkesan menurun.

Ia menyebut tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi turun tipis dari 70,9 persen manjadi 70,3 persen.

"Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla cenderung stagnan di angka 70 persen semenjak beberapa bulan terakhir," ujarnya.

Stagnansi kepuasan terhadap pemerintah dipengaruhi oleh beberapa persoalan, salah satunya soal eknomi. Ia berkata sebanyak 24,9 persen responden menilai persoalan kebutuhan biaya hidup sebagai persoalan utama saat ini.

Kemudian disusul oleh lapangan pekerjaan 20,2 persen, korupsi 13,7 persen, kesenjangan sosial 8,1 persen, narkoba 7,8 persen, kesehatan 7,6 persen, dan biaya pendidikan 7 persen.

Selain itu, Rudi berkata hasil survei juga menyebutkan bahwa pembangunan infrastruktur menjadi sumber prestasi pemerintah Jokowi-JK. Ia membeberkan sebanyak 77,6 persen responden puas dengan pembangunan infrastruktur.

Sebelumnya, LSI Denny JA juga merilis survei pada Desember 2018. Berdasarkan survei LSI Denny JA, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 54,2 persen suara, tetap unggul dari Prabowo-Sandiaga yang mendapat 30,6 persen suara.
(jps)