Prabowo dalam pidatonya semalam yang bertajuk 'Indonesia Menang' meminta agar intelijen tak mengawasi ulama, mantan presiden, mantan ketua MPR, hingga mantan panglima TNI.
"Itu adalah suatu warning Pak Prabowo jangan sampai intelijen itu malah menginteli rakyat, apalagi menginteli presiden RI keenam. itu warning," kata Rachland kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara umum itu adalah suatu imbauan, seruan Pak Prabowo agar demokrasi, dijaga, dengan cara memastikan netralitas dari aparat-aparat negara terutama intelijen Kepolisian dan TNI," ujarnya.
"Apa yang disampaikan pak Prabowo itu merupakan sebuah warning, peringatan agar BIN netral di dalam demokrasi ini," kata Ferdinand kepada CNNIndonesia.com.
Ferdinand menyebut bukan tanpa alasan Prabowo menyampaikan peringatan tersebut. Menurutnya, dalam beberapa kali kesempatan Kepala BIN Budi Gunawan kerap hadir dalam acara Partai Demokrasi Indonesia Indonesia (PDIP).
"Kita melihat beliau sering hadir di PDIP, dan ini tentu saja bisa diindikasikan sebagai sebuah keberpihakan karena tidak seharusnya kepala BIN hadir di acara-acara partai politik," ujarnya.
Lebih lanjut, Ferdinand yanag juga anggota Badan Pemenang Nasional (BPN) Prabowo-Sandi itu menyatakan bahwa Prabowo bukan dalam posisi menuduh BIN tengah mengawasi sejumlah tokoh masyarakat, termasuk SBY. Dia mengatakan Prabowo ingin menyampaikan peringatan agar demokrasi Indonesia berjalan baik.
"Supaya lembaga negara seperti BIN betul-betul hanya bertugas untuk mendeteksi dini musuh dan gangguan terhadap bangsa dan negara kita, tidak digunakan dan diperalat oleh kekuasaan untuk menginteli lawan politiknya," ujarnya.