Pidato 'Inteli' Ulama, Bentuk Peringatan Prabowo untuk Aparat

CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 07:00 WIB
Pidato 'Inteli' Ulama, Bentuk Peringatan Prabowo untuk Aparat Wakil Sekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Rachland Nashidik menilai calon presiden nomor 02 Prabowo Subianto yang menyindir kinerja aparat intelijen saat menyampaikan pidato kebangsaan semalam sebagai bentuk peringatan.

Prabowo dalam pidatonya semalam yang bertajuk 'Indonesia Menang' meminta agar intelijen tak mengawasi ulama, mantan presiden, mantan ketua MPR, hingga mantan panglima TNI.

"Itu adalah suatu warning Pak Prabowo jangan sampai intelijen itu malah menginteli rakyat, apalagi menginteli presiden RI keenam. itu warning," kata Rachland kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/1).


Rachland menyebut Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga memperingatkan agar aparat intelijen tak mengawasi gerak-gerik sejumlah tokoh masyarakat yang aktif di dunia politik.
Menurut Rachland, SBY sangat paham dengan kerja aparat intelijen lantaran belum lama selesai menjabat presiden ke-6 RI selama dua periode.

"Secara umum itu adalah suatu imbauan, seruan Pak Prabowo agar demokrasi, dijaga, dengan cara memastikan netralitas dari aparat-aparat negara terutama intelijen Kepolisian dan TNI," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Divisi Advokasi dan Hukum Demokrat, Ferdinand Hutahaen mengatakan pernyataan Prabowo merupakan peringatan agar Badan Intelijen Negara (BIN) netral di tengah kontestasi pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

"Apa yang disampaikan pak Prabowo itu merupakan sebuah warning, peringatan agar BIN netral di dalam demokrasi ini," kata Ferdinand kepada CNNIndonesia.com.

Ferdinand menyebut bukan tanpa alasan Prabowo menyampaikan peringatan tersebut. Menurutnya, dalam beberapa kali kesempatan Kepala BIN Budi Gunawan kerap hadir dalam acara Partai Demokrasi Indonesia Indonesia (PDIP).

"Kita melihat beliau sering hadir di PDIP, dan ini tentu saja bisa diindikasikan sebagai sebuah keberpihakan karena tidak seharusnya kepala BIN hadir di acara-acara partai politik," ujarnya.

Lebih lanjut, Ferdinand yanag juga anggota Badan Pemenang Nasional (BPN) Prabowo-Sandi itu menyatakan bahwa Prabowo bukan dalam posisi menuduh BIN tengah mengawasi sejumlah tokoh masyarakat, termasuk SBY. Dia mengatakan Prabowo ingin menyampaikan peringatan agar demokrasi Indonesia berjalan baik.

"Supaya lembaga negara seperti BIN betul-betul hanya bertugas untuk mendeteksi dini musuh dan gangguan terhadap bangsa dan negara kita, tidak digunakan dan diperalat oleh kekuasaan untuk menginteli lawan politiknya," ujarnya.
(ugo)