"Padahal saya memilih periode lalu," kata Lini berbicara dalam diskusi Golput Itu Hak dan Bukan Tindak Pidana, Rabu (23/1) siang ini di Gedung YLBHI Jakarta.
Lini punya daftar hal-hal yang membuatnya kecewa terhadap Jokowi. Salah satunya adalah pemilihan Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilihan Ma'ruf memang sarat kontroversi. Sebagian masyarakat terkejut oleh keputusan Jokowi yang mengumumkan Ma'ruf sebagai cawapresnya di detik-detik akhir pendaftaran. Pasalnya, kabar yang santer beredar menyebutkan Jokowi bakal memilih mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD.
Pencalonan Mahfud kandas di detik terakhir setelah Jokowi memutuskan memilih Ma'ruf Amin. Belakangan Mahfud mengungkapkan bahwa dalam proses pemilihan cawapres, Jokowi sempat mendapat ancaman politik.
Saat itu Ma'ruf meneken pendapat dan sikap keagamaan MUI berisikan Ahok termasuk penghina Alquran dan ulama. Ma'ruf juga salah satu saksi memberatkan Ahok dalam persidangan.
Mahfud MD. (ANTARA FOTO/Reno Esnir) |
Selain soal Ma'ruf, Lini merasa kecewa dengan janji-janji politik Jokowi yang tidak ditunaikan. Dia menyoroti janji Jokowi soal penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu.
Alih-alih menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu, Jokowi malah mempercayai Wiranto sebagai Menko Polhukam. Padahal, kata Lini, Wiranto masih terkait pelanggaran HAM berat masa lalu.
Mantan Ketua Umum Partai Hanura ini dikaitkan dalam peristiwa penyerangan markas Partai Demokrasi Indonesia 27 Juli 1996, Tragedi Trisakti, peristiwa Semanggi I dan II, penculikan dan penghilangan aktivis pro-demokrasi tahun 1997-1998, serta Biak Berdarah.
Jokowi juga dinilai Lini tak serius dalam menangani perkara HAM lain yang terjadi saat ini, seperti kasus HAM di Pegunungan Kendeng.
Deretan kekecewaannya itu membuat Lini mantap menjadi Golput. Menurutnya golput adalah pilihan politik. Maka seperti pilihan politik lain, dia berharap kelompok pendukung mana pun dapat menghargai mereka yang golput.
Lini juga menegaskan agar para pendukung tak salah menafsirkan langkah para golput.
"Ketika kami nyatakan golput langsung dianggap menjadi pendukung paslon lainnya seperti Prabowo. Membacanya terbalik. Cara melihat seperti itu tidak tepat," tutur Lini.
Lihat juga:Alumni UI Terganggu Deklarasi Dukung Jokowi |
"Aroma oligarki para elite semakin dikunci dengan tidak ada peluang mengajukan calon presiden independen. Presidential threshold juga tinggi," tutur Alghif.
Tren golput dalam setiap Pilpres sejak 2004 selalu meningkat. Berdasarkan data KPU, pada Pilpres 2004 putaran pertama golput berjumlah 21,8 persen dan menjadi 23,4 persen pada putaran kedua.
Jumlah itu kembali meningkat dalam Pilpres 2009 menjadi 28,3 persen. Dalam Pilpres terakhir, jumlah golput meningkat lagi menjadi 29,01 persen. Angka ini termasuk para pemilik suara yang tidak menggunakannya di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Alghif meyakini jumlah golput dalam Pilpres tahun ini akan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (chri/wis)
Mahfud MD. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)