Hal ini menanggapi hasil survei lembaga Indikator Politik yang menyebut sebanyak 43,2 persen kader PPP mendukung pasangan Prabowo-Sandi. Sementara 53,7 persen mendukung pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Padahal, PPP merupakan salah satu parpol pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin.
"Kalau dikatakan masih tinggi, wajar saja, terutama untuk PPP dan Golkar karena ini memang ini ada shifting position dari yang awalnya ke Pak Prabowo lalu kemudian kepada Pak Jokowi," kata Arsul di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (24/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, angka dukungan ke Jokowi disebut meningkat usai PPP bergabung mendukung pemerintahan. Dari survei internal pada 2017, angka dukungan ke Jokowi diklaim naik menjadi 40 persen, sementara ke Prabowo diklaim turun mencapai 25 persen.
"Tapi kan kalau survei kan basisnya kan akar rumput, bukan struktur. Jadi kalau dari sisi struktur boleh dibilang tidak ada masalah," tandasnya.
Untuk itu, PPP kata Arsul telah melakukan langkah khusus agar kader akar rumput solid mendukung Jokowi-Ma'ruf. Salah satunya dengan strategi micro canvasing dan micro targeting ke daerah-daerah yang masih ada resistensi kepada Jokowi dan langsung dilakukan Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy.
"Kalau kita kontrol lewat medsos kan yang ada ribut aja di medsos. Maka satu satunya cara ya dengan micro targeting, micro canvasing; datangin orangnya, diajak diberi informasi tentang yang sebenarnya," lanjutnya.
(swo/arh)