Jokowi: Indonesia Dibandingkan Haiti, Ekonom akan Senyum

CNN Indonesia | Sabtu, 02/02/2019 23:43 WIB
Jokowi: Indonesia Dibandingkan Haiti, Ekonom akan Senyum Calon presiden Joko Widodo memberikan sambutan dalam silaturahmi dengan Paguyuban Pengusaha Jawa Tengah di Semarang Town Square, Semarang, Jawa Tengah, 2 Februari 2019. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Semarang, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut 01 dalam Pilpres 2019, Joko Widodo (Jokowi), menyindir pihak-pihak yang membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan Haiti. Menurut Jokowi, dua negara itu tak sepadan untuk dibandingkan karena berbeda jauh. Ia mengatakan Indonesia sudah masuk kelompok G-20, sehingga sosok-sosok yang paham atau mengerti ekonomi makro akan geli mendengar logika yang membandingkannya dengan Haiti.

"Jadi jangan dibandingkan negara kita yang sudah masuk G20 dimasukkan dengan negara Haiti. Ya kan? Negara Haiti? Gimana kalau ekonom atau orang yang mengerti ekonomi makro, ya senyum-senyum membandingkan bukan apple to apple seperti itu," kata Jokowi di hadapan Paguyuban Pengusaha Jawa Tengah, di Semarang Town Square, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/2).

Terkait hal tersebut, Jokowi pun mengaku dirinya heran ada pihak yang tak bersyukur melihat Indonesia masuk anggota negara G-20. Apalagi, kata Jokowi, Indonesia menjadi salah satu negara yang bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi pada angka 5 persen.


"Ini negara kita, yang harus mulai kita ajak masyarakat untuk optimis menatap masa depan. Karena kita memiliki harapan besar untuk menjadi ekonomi terkuat, empat besar ekonomi terkuat dunia," ujar mantan Gubernur DKI Jakarta dan Wali Kota Solo tersebut.


Dalam sambutannya tersebut, Jokowi tak menyinggung siapa pihak yang menyamakan kondisi ekonomi Indonesia dengan Haiti. Namun, Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto pernah menyinggung ekonomi Indonesia sama dengan Haiti saat hadir di Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Kota Solo, 23 Desember 2018.

Prabowo menyebut kemiskinan Indonesia setingkat dengan Rwanda dan Haiti.

Jokowi mengatakan sejak awal pemerintahannya memang telah memutuskan untuk fokus membangun sejumlah infrastruktur, mulai dari jalan raya, jalan tol, pembangkit listrik, jalur kereta api, pelabuhan, serta bandar udara di beberapa wilayah Indonesia. Fokus pembangunan ini, sambungnya, juga memudahkan untuk mengontrol penggunaan anggaran.

"Sudah konsentrasi di sini. Ngontrolnya gampang, ngeceknya gampang, ngawasinya gampang, dan anggarannya bisa betul-betul di-breg, breg, breg. Sudah kelihatan," ujar pria yang bersama Jusuf Kalla memimpin pemerintahan Indonesia setelah memenangi Pilpres 2014 silam.

Jokowi mengakui salah satu fokus infrastruktur yang pihaknya kebut adalah pembangunan jalan bebas hambatan yakni Tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatera. Menurutnya, akan sulit menjelaskan kepada pihak yang tak suka dengan pembangunan jalan tol bila sudah tak suka dengan dirinya

"Silakan ada orang ngomong kepada saya, 'Pak kita enggak mau makan jalan tol'. Ya kalau enggak ngerti teori ekonomi makro sulit saya menjelaskan. Atau kalau memang benci dan enggak senang, dijelaskan kayak apa ya enggak nyambung," kata Jokowi.

Lebih lanjut, Jokowi mengatakan setelah rampung membangun infrastruktur pihaknya akan mulai membangun sumber daya manusia (SDM) secara besar-besaran. Capres petahana dalam Pilpres 2019 itu menegaskan pembangunan harus dilakukan bertahap agar terlihat hasilnya.

"Begitu infrastruktur yang sangat fundamental bisa kita bangun, begitu pembangunan SDM yang betul bisa secara fundamental kita bangun dan benar, ini untuk tinggal landasnya bersaing dengan negara-negara lain, akan memudahkan kita," janji Jokowi.

Dalam kontestasi Pilpres 2019, Jokowi yang menjadi capres petahana itu berpasangan dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin. Sementara itu lawan politiknya adalah Prabowo Subianto yang berpasangan dengan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

(fra/kid)