TGB: Pilpres 2019 Bukan Perang Badar atau Armageddon

CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 05:11 WIB
TGB: Pilpres 2019 Bukan Perang Badar atau Armageddon Politikus Golkar TGB Zainul Majdi menegaskan pilpres 2019 bukan perang antara kufur dan iman. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Politikus Partai Golkar TGB Muhammad Zainul Majdi menyatakan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 bukan merupakan peperangan atau Armageddon. 

Menurutnya, Pilpres harus dimaknai sebagai ajang lima tahunan bagi masyarakat untuk memilih pemimpin berdasarkan visi dan misi.

"Pilpres ini bukan kurusetra, bukan armageddon, bukan perang badar. Ini adalah ajang demokrasi kita yang diharapkan bisa menghasilkan kepemimpinan yang baik untuk kita semua," ujar TGB saat diskusi Gerakan Menangkal Fitnah yang diselenggarakan TKN Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Posko Cemara, Jakarta, Kamis (7/2).


TGB menuturkan Pilpres dalam agama Islam merupakan ajang untuk fastabilqul khairat atau berlomba melakukan kebaikan. Lewat pemaknaan itu, ia berkata seluruh pasangan di Pilpres 2019 harus diyakini membawa visi dan misi yang baik bagi masyarakat.


Sehingga, ia mengaku tidak sepakat dengan pihak yang menilai Pilpres 2019 sebagai ajang pertaruhan atau pertempuran antara yang haq dan bathil hingga kufur dan iman. 

"Itu sangat tidak relevan karena sekali lagi kita semua sebagai anak bangsa ini berada dalam kontestasi fastabilqul khairat atau berlomba dalam kebajikan," ujarnya.

Lebih lanjut, TBG menilai pemaknaan yang positif terhadap Pilpres 2019 akan membuat ujaran dan hal yang disampaikan ke publik menjadi positif. Sebaliknya, secara alami hoaks dan fitnah akan muncul jika Pilpres 2019 dimaknai negatif.


Lebih parah lagi, kata dia, pemaknaan negatif terhadap Pilpres 2019 juga akan merusak ruang publik dan persaudaraan sebagai bangsa.

"Kalau kita terus memompa hoaks ke ruang publik maka bisa jadi dampaknya bisa panjang sekali kepada kita semua sebagai anak bangsa," ujar TGB.

Lebih dari itu, ia mengingatkan soliditas untuk mendukung pemimpin terpilih juga tidak akan terjadi jika hoaks dan fitnah terus ditebar selama Pilpres.

"Pilpres ini seperti kita menanam benih di tanah yang kemudian akan tumbuh benih itu. Kalau kita menanam benih kebohongan, yang tumbuh pun akan fitnah yang berkepanjangan. Dan itu sama sekali tidak baik bagi kita sebagai bangsa," ujarnya.

(jps/DAL)