Analisis

Strategi Ulur Waktu Gerindra soal Kursi Wagub DKI

CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 19:13 WIB
Strategi Ulur Waktu Gerindra soal Kursi Wagub DKI Tiga kandidat wakil gubernur DKI Jakarta di kantor fraksi PDIP DPRD DKI. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum menemukan kata sepakat soal sosok yang akan menggantikan Sandiaga Uno sebagai wakil gubernur DKI Jakarta.

Dua partai yang mendapatkan jatah untuk mengisi posisi itu, rencananya akan kembali melaksanakan uji kelayakan tertutup untuk ketiga kali.

Posisi kursi wakil gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. PKS dan Gerindra masih tarik menarik. Kini, tiga nama dari PKS telah mengerucut untuk diseleksi sebagai pendamping Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.


Mereka ialah Abdurrahman Suhaimi, Agung Yulianto, dan Ahmad Syaikhu. Ketiganya masih mengikuti uji kelayakan dan kepatutan untuk memperebutkan DKI-2. Namun di tengah uji tes dan kelayakan, Gerindra DKI menyebut tiga nama tersebut bisa gagal di ajang uji tes dan kelayakan.
Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD DKI Syarief juga mengatakan tidak puas dengan kompetensi ketiganya.

Direktur Eksekutif Voxpol and Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago berpendapat Gerindra tengah memainkan strategi mengulur waktu, karena cenderung mencla-mencle.

"Bertele tele, seperti dipersulit, berlama lama dan yang paling dirugikan masyarakat Jakarta," kata Pangi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (8/2).

Pangi mengatakan secara aturan sesungguhnya penunjukan Wakil Gubernur DKI sangatlah mudah. Berkaca dari kekosongan posisi wagub di zaman Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Djarot dipilih menggunakan UU nomor 1 tahun 2015 dan PP No 102 tahun 2014.

Namun peraturan itu diganti menjadi Pasal 176 UU N0 10 Tahun 2016. Para cawagub pun harus mengikuti fit and proper test yang dipandang Pangi sesungguhnya sebagai gimmick politik.

"Ini kan soal bagi bagi kekuasaan. Bagaimana berpolitik itu tanpa bagi bagi kekuasaan (power sharing)," kata Pangi. "Padahal Gerindra dan PKS ini sekutu lama, harusnya mudah hal yang begini gini."
Gerindra, kata Pangi, harus bisa legawa terhadap pemilihan ini mengingat keduanya sudah mesra sejak pemilihan Anies Baswedan-Sandiaga Uno menjadi gubernur-wagub DKI.

"Peringatan dini di DKI Jakarta, berbahaya kalau nanti PKS DKI Jakarta mematikan mesin dan ini juga bisa mempengaruhi mesin partai PKS dalam memenangkan Prabowo Sandi, ini harus hati hati Gerindra, jangan blunder," kata dia.

Humas DPW PKS DKI Jakarta Zakaria menyatakan masih memegang teguh komitmen Gerindra untuk mengusulkan nama ke Anies Baswedan per tanggal 11 Februari mendatang.

Zakaria menagih komitmen Gerindra yang sedianya menyatakan kesiapan per Januari 2019 lalu.

"Beliau bahkan di awal Januari sudah mengatakan 25 Januari Insyallah terus kemudian ada perubahan di tanggal FGD segala. Ada lagi pertemuan malam hari ini untuk menyampaikan tanggal 11 saya kira harusnya komitmen," kata Zakaria.

Diakui Zakaria pemilihan wakil gubernur bukanlah permasalahan yang sederhana. Kendati begitu Zakaria meyakini setiap calon dari PKS merupakan kader terbaik yang memiliki kompetensi di bidang Ibu Kota.

"Tiga orang ini Insyaallah sudah mewakili keinginan dari panelis dan tentunya Insyaallah warga Jakarta dan mereka juga sekarang aktif di media keluar yang pak Agung dan Suhaimi," kata dia.
[Gambas:Video CNN] (ctr/ugo)


BACA JUGA