Warga Kendeng Datangi Polisi Tanyakan Soal Pembakaran Mushola

CNN Indonesia | Senin, 11/02/2019 22:00 WIB
Warga Kendeng Datangi Polisi Tanyakan Soal Pembakaran Mushola Iliustrasi. JMPPK melakukan aksi di depan Mapolres Rembang meminta pengusutan kasus perusakan pembakaran Mushola dan tenda perjuangan (CNN Indonesia/Safir Makki)
Rembang, CNN Indonesia -- Warga penolak pabrik semen yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) mendatangi Mapolres Rembang untuk mempertanyakan pengusutan kasus perusakan dan pembakaran mushola dan tenda perjuangan mereka yang terjadi 10 Februari 2017 lalu.

Sebelum diterima pejabat Kepolisian Polres Rembang, massa yang berjumlah sekitar 50 orang sempat menggelar orasi sembari membentangkan sejumlah poster yang menuntut polisi bisa menangkap pelaku perusakan dan pembakaran mushola dan tenda perjuangan warga.

"Kami merasa miris apabila polisi mandul dan tak mampu menangkap para pelaku dan mengusut tuntas kasus yang mana para pelakunya sangat jelas melalui berbagai bukti foto dan kesaksian. Terlebih lagi, saat ini sudah menginjak waktu dua tahun lamanya", ungkap Ngatiban, koordinator aksi, Senin (11/2).



Sebelumnya, kasus perusakan pembakaran Mushola dan tenda perjuangan JMPPK terjadi ketika warga tengah menyegel menutup akses jalan masuk ke pabrik Semen Rembang. Beberapa warga menyebut pelaku perusakan dan pembakaran adalah sekelompok orang yang diduga bukan warga yang tinggal di sekitar Pegunungan Kendeng.

Massa JMPPK membantah adanya informasi yang menyatakan bila tidak ada tempat ibadah yang dirusak dan dibakar.

"Apapun bentuknya, Mushola adalah tempat ibadah. Apalagi Mushola itu diresmikan oleh K.H. Zaim Ahmad Ma'soem, pengasuh Ponpes Kauman Lasem dan K.H. Syaroffudin dari Ponpes Raudlatul Tholibin, Rembang pada 15 Februari 2015. Bahkan, Gus Mus pun pernah singgah di Mushola itu," tambah Ngatiban.


Kapolres Rembang AKBP Pungky Bhuana Santoso juga membantah bila jajarannya hanya berdiam diri dengan tidak melakukan pengusutan kasus perusakan pembakaran mushola dan tenda perjuangan JMPPK. Menurut Pungky, penyidik terkendala dengan pembuktian siapa pelakunya, termasuk keterangan dari pelapor yang ketika dikonfirmasi hasilnya mentah.

"Penyidik kami tidak diam, kami terus melakukan pendalaman mencari pelaku. Hanya saja, pembuktian siapa pelaku ada kendala karena keterangan pelapor setelah kami konfirmasi dan dalami hasilnya mentah. Kami juga harus hati-hati, tidak bisa asal menangkap dan memenjarakan seseorang," ujar Pungky.

Lebih lanjut, rencananya penyidik Polres Rembang akan melakukan pertemuan dengan massa JMPPK untuk berdiskusi tindak lanjut terkait penyelidikan yang sudah berjalan.

(dmr/eks)