Jokowi Klarifikasi Bukan Tak Ada Karhutla, tapi Turun Drastis

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 13:48 WIB
Jokowi Klarifikasi Bukan Tak Ada Karhutla, tapi Turun Drastis Jokowi menjelaskan maksud pernyataannya saat debat bukan tidak ada kebakaran hutan selama tiga tahun terakhir, melainkan turun drastis. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Banten, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluruskan pernyataan dirinya soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat debat Pilpres 2019. Jokowi menjelaskan maksudnya bukan tidak ada kebakaran selama tiga tahun terakhir, melainkan karhutla turun drastis sejak 2015 sampai 2018.

"Saya sampaikan kita bisa mengatasi kebakaran dalam tiga tahun ini. Artinya bukan tidak ada. Turun drastis, turun 85 persen lebih," kata Jokowi di Pandeglang, Banten, Senin (18/2).

Jokowi mengklaim setelah pihaknya berhasil menekan kasus kebakaran hutan dan lahan, sudah tak ada lagi masalah pesawat yang tak bisa mendarat. Selain itu, kata Jokowi, negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia juga tak komplain masalah asap.



"Keluhan-keluhan di provinsi mengenai asap juga enggak ada. Keluhan dari negara tetangga dalam tiga tahun ini, Singapura, Malaysia dapat dikatakan enggak ada komplain sama sekali. Itu yang kita maksudkan," ujarnya.

Menurut calon presiden nomor 01, pemerintah berhasil menurunkan kasus kebakaran hutan dan lahan hingga 85 persen. Jokowi meminta masalah dirinya kurang tepat menyebut kasus kebakaran hutan dan lahan selama tiga tahun terakhir ini untuk tidak dibesar-besarkan.

"Tapi turunnya lebih dari 85 persen gitu loh. Jangan dilebih-lebihkan lah seperti itu datanya juga ada seperti biasa," kata dia.

Jokowi soal Kebakaran Hutan: Bisa Kita Atasi, Bukan Tidak AdaSeorang warga dengan cara manual memadamkan api yang membakar lahan gambut, di Desa Seuneubok, Aceh, Senin (7/1/2019). (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah menanggapi pernyataan Jokowi yang menyebut tidak ada karhutla dalam tiga tahun belakangan ini.

Kepala Biro Humas KLHK Djati Witjaksono Hadi menyampaikan kebakaran hutan dan lahan masih ada di beberapa tempat meskipun pemerintah bisa mengendalikannya.

"Masih ada kebakaran, bukan berarti tidak ada kebakaran sama sekali. Ada kebakaran lahan di beberapa tempat tetapi bisa dikendalikan, jumlahnya tidak seburuk tahun 2015," kata Djati kepada CNNIndonesia.com.


Dia mengatakan pihaknya menggunakan parameter pengendalian kebakaran hutan berdasarkan jumlah hotspot. Menurut dia, sejak 2015 hingga 2018, jumlah hotspot menurun drastis.

Berdasarkan data di situs SiPongi terkait Karhutla Monitoring Sistem KLHK, terdapat 261.060,44 hektare lahan yang terbakar pada 2015. Jumlahnya turun pada 2016, yaitu seluas 14.604,84 hektare. Pada 2017 luas karhutla kembali menurun yaitu 11.127,49 hektare. Begitu pula pada 2018, jumlah lahan yang terbakar luasnya 4.666,39 hektare.

Saat debat capres kedua pada Minggu (17/2), capres petahana Jokowi menyatakan tidak ada kebakaran hutan dan lahan selama tiga tahun terakhir. Meski demikian, Jokowi merevisi ucapannya bahwa pemerintah bisa mengatasi kebakaran hutan dan lahan.

"Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran lahan, hutan, kebakaran lahan gambut, dan itu adalah kerja keras kita semuanya," kata Jokowi di lokasi debat, Hotel Sultan, Jakarta.

Pada debat kedua kemarin, tema debat yang diangkat adalah infrastruktur, pangan, energi, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Debat tersebut hanya diikuti oleh kedua capres, Jokowi dan Prabowo.

(fra/pmg)