Survei: Tsamara Populer, Tapi Elektabilitas Kalah dari HNW

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 20:22 WIB
Survei: Tsamara Populer, Tapi Elektabilitas Kalah dari HNW Salah satu caleg pendatang baru, Tsamara Amany, meraih popularitas tertinggi di Dapil DKI 2, meski kalah dalam hal elektabilitas dari HNW. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil survei lembaga Y-Publica memperlihatkan bahwa sejumlah calon anggota legislatif (caleg) pendatang baru bisa bersaing dengan para politikus berpengalaman dalam hal popularitas. Meski begitu, wajah baru itu masih kalah dalam hal elektabilitas.

"Secara keseluruhan caleg-caleg pendatang baru mampu bersaing dengan caleg petahana di tingkat pengenalan dan kesukaan. Ini artinya orang tidak hanya lihat popularitasnya tapi juga rekam jejak," ucap Direktur Eksekutif Y-Publica Rudi Hartono, di kawasan Cikini, Jakarta, Senin (18/2).

Ia mencontohkannya dengan sejumlah keunggulan caleg baru di tiga daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta. Di dapil DKI 2, yang meliputi Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, caleg pendatang baru dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany memiliki tingkat popularitas tertinggi.

Hasil survei menunjukkan kepopuleran Tsamara mencapai 31,6 persen, disusul anak mendiang seniman Betawi Benyamin Sueb, Biem Triani Benyamin, yang mencapai 28,4 persen, dan politikus PKS Hidayat Nur Wahid (HNW) sebesar 26,5 persen.

Meski begitu, kata Rudi, berdasarkan tingkat elektabilitas HNW berada di posisi teratas dengan angka 9,5 persen, dan disusul oleh Biem Benyamin 8 persen, caleg PDIP Eriko Sotarduga 7,3 persen. Tsamara sendiri ada di posisi keempat dengan elektabilitas 4,3 persen.

Caleg kawakan dari PKB Imam Nahrawi, yang juga menjabat Menpora, menjadi yang terdepan di Dapil DKI 3.Hidayat Nur Wahid. (CNN Indonesia)
Direktur Eksekutif Y-Publica Rudi Hartono mengatakan tingginya elektabilitas HNW tak lepas dari faktor mesin politik PKS yang memiliki basis cukup kuat di Jakarta.

"Tsamara memang lebih populer dari HNW. Tapi elektabilitas HNW jauh di atas Tsamara, ini kemungkinan karena faktor mesin politik PKS," ujar Rudi.

Sementara, tingkat elektabilitas sejumlah caleg petahana berada di bawah Tsamara. Yakni, caleg PDIP Masinton Pasaribu dengan elektabilitas 4 persen, dan caleg Partai NasDem Okky Asokawati sebesar 3,3 persen.

Di dapil DKI 1, yang meliputi Jakarta Timur, lanjut Rudi, caleg dari PKB Imam Nahrawi memiliki popularitas tertinggi dengan angka 54,4 persen. Caleg Partai Gerindra Habiburakhman menyusul dengan angka 29,4 persen, caleg Partai NasDem Wanda Hamidah 25,6 persen, caleg PDIP Putra Nababan 24,8 persen, dan caleg PDIP Chicha Koeswoyo 22 persen.

Popularitas Imam ini seiring dengan tingkat elektabilitasnya yang berada di posisi tertinggi yakni 16,5 persen, kemudian caleg PAN Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio 6,5 persen, dan Habiburakhman 4,3 persen.

Rudi mengatakan tingginya popularitas dan tingkat keterpilihan Imam didukung oleh basis PKB yang cukup kuat di wilayah Jakarta Timur. Padahal pada pileg 2014, menteri pemuda dan olahraga itu mendaftar di dapil Jawa Timur.

Caleg dari PBB, yang juga Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra, unggul di Dapil 3 DKI. Caleg dari PBB, yang juga Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra, dominan di Dapil 3 DKI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Imam Nahrawi ini unggul karena faktor PKB yang cukup kuat. Selain itu kan dia memang sudah populer," katanya.

Sementara di dapil DKI 3 yang meliputi Jakarta Barat dan Jakarta Utara, Rudi menyebut caleg dari PBB Yusril Ihza Mahendra memiliki tingkat popularitas dan keterpilihan paling tinggi.

Hasil survei menunjukkan popularitas Yusril mencapai 59,8 persen, kemudian caleg dari PSI Grace Natalie 55,1 persen, dan caleg PAN Abraham Lunggana alias Lulung 52,6 persen.

Dari sisi elektabilitas, Yusril tetap berada di posisi teratas yakni 10,9 persen disusul Lulung 9,5 persen. Sedangkan elektabilitas Grace hanya 5,4 persen.

Sementara keponakan capres Prabowo Subianto, Saraswati Djojohadikusumo yang mendaftar sebagai caleg Gerindra di dapil DKI 3 hanya memiliki tingkat elektabilitas 4,5 persen.

DKI Jakarta diketahui terbagi dalam tiga dapil untuk Pileg DPR RI. Dapil 1 meliputi Jakarta Timur, dapil 2 Jakarta Pusat dan Selatan plus luar negeri, dapil 3 Jakarta Utara, Barat, dan Kepulauan Seribu.

Survei ini dilakukan Y-Publica pada 800 responden di Jakarta yang dipilih secara acak bertingkat. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka pada responden terpilih menggunakan kuesioner pada 21-30 Januari 2019. Sementara margin error dari survei ini kurang lebih 3,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

[Gambas:Video CNN]


(psp/arh)