LSI: Demokrat Terancam Raih Suara Terendah Sejak Ikut Pemilu

chri, CNN Indonesia | Rabu, 20/02/2019 20:23 WIB
LSI: Demokrat Terancam Raih Suara Terendah Sejak Ikut Pemilu Ketua Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Demokrat diprediksi akan mengalami kemorosotan suara paling rendah sepanjang keikutsertaan mereka di Pemilu. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Demokrat terancam bakal mendapat suara terendah sepanjang sejarahnya mengikuti Pemilihan Umum (Pemilu). Hal itu terlihat dari hasil survei terbaru LSI Denny JA.

Peneliti senior LSI Denny JA Rully Akbar menyatakan, secara populasi umum, Partai Demokrat berada di posisi kelima setelah PDIP, Gerindra, Golkar, dan PKB dengan perolehan suara 5,4 persen.

"Demokrat terancam mendapat perolehan suara terendah sejak mengikuti Pemilu," ujar Rully di Gedung Graha Dua Rajawali, Rabu (20/2).


Partai yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono ini pertama kali mengikuti Pemilu pada 2004 dan meraih suara sebanyak 7,45 persen (8.455.225) dari total suara dan mendapatkan 57 kursi di DPR.

Suara Partai Demokrat kemudian melonjak jauh dalam Pemilu 2009 ketika SBY kembali terpilih menjadi Presiden dengan perolehan suara 20,4 persen (21.703.137) dan mendapatkan kursi 150 kursi di DPR.

Namun, perolehan suara Demokrat meluncur bebas dalam Pemilu 2014 menjadi 10,19 persen (12.728.913). Saat itu, SBY tak lagi menjabat Presiden dan beberapa kader seperti Anas Urbaningrum, Nasaruddin, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, dan banyak lainnya terlibat korupsi.

Rully menyatakan banyak faktor memengaruhi penurunan perolehan suara Demokrat dalam Pemilu 2019, salah satunya adalah cuitan sensasional Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief di Twitter.

"Di sisi lain ada banyak kasus, seperti cuitan Andi Arief memberatkan Demokrat menunjukkan dirinya sebagai partai besar atau pernah jadi partai besar," ucap Rully.

Andi Arief kerap mencuitkan banyak hal melalui akun Twitternya. Beberapa di antaranya menuai kontroversi seperti menuding Prabowo Subianto sebagai Jenderal Kardus, tidak serius nyapres, dan meminta Presiden Jokowi menyerahkan matanya kepada Novel Baswedan.

Terakhir, Andi Arief ikut meramaikan hoaks surat suara tujuh kontainer dari Cina membawa surat suara tercoblos tiba di Tanjung Priok.

Selain Andi Arief, Rully menduga perolehan suara turun akibat kaderisasi yang belum maksimal, salah satunya melalui Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Dulu di 2009 besar karena SBY dan SBY maju sebagai Presiden. Sekarang apakah AHY bisa meraih pemilih milenial, terpelajar, atau di mana?" tuturnya.

AHY pertama kali mulai masuk dunia politik melalui Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Saat itu ia dipasangkan dengan Sylviana Murni melawan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Dia kini bergabung dan menjadi Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno jelang Pilpres 2019.

Selain AHY, SBY juga memiliki putra Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Selama ini, Ibas malang melintang di DPR sejak 2009 dengan daerah pemilihan Jawa Timur VII. Ia juga pernah menjadi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat 2010-2015. (chri/wis)