Maksudnya, dana desa yang digelontorkan tidak bisa menyelesaikan permasalahan di desa secara menyeluruh.
"Ini maksudnya menyelesaikan masalah secara P3K, kalau ada yang urgent baru bisa kita selesaikan, tapi secara keseluruhan tetap pemerintah pusat," kata Edhy saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (21/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Desa tidak leluasa menggunakan anggaran itu, tanya saja ke mereka. Ada sebagian daerah yang dia hanya menjalankan itu kalau mengikuti instruksinya, kemudian tendernya untuk siapa. Ada kita temuan itu," ujarnya.
Polemik dana desa ini kembali mengemuka setelah Mendagri Tjahjo Kumolo mengumpulkan ribuan perangkat desa. Tjahjo mengajak para kepala desa dan bamus desa untuk menyerukan nama 'Jokowi' jika ia meneriakkan 'dana desa'.
"Terima kasih Pak Jokowi. Tolong untuk kepala desa dan badan musyawarah desa berdiri. Kalau saya teriak dana desa, Pak Jokowi," kata Tjahjo.
Capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta). |
Janji Bangun Bank untuk Petani dan Nelayan
Di sisi lain, Edhy menambahkan, pihaknya berjanji akan membangun bank untuk petani dan nelayan jika Prabowo-Sandi terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019-2024.
Edhy yang juga Direktur Legislatif Badan Pemenangan Nasional (BPN) ini mengatakan pembangunan bank untuk petani dan nelayan ini penting untuk menunjukkan keberpihakan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan dan tidak mengebiri para pelaku usaha di sektor tersebut.
"Jika Prabowo-Sandi dipercaya memimpin negeri ini, maka kami akan membangun bank petani dan nelayan untuk mempermudah akses permodalan," kata Edhy dalam sebuah diskusi di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (21/2).
Bahkan, sebagian besar dari petani itu hanya bekerja sebagai buruh tani yang mengelola lahan milik orang lain.
"Para petani kita itu tidak semuanya memiliki lahan seperti buruh tani dan sebagainya," ucapnya.
Selain itu, Edhy melanjutkan, kebijakan impor yang dilakukan oleh pemerintah saat ini juga mengakibatkan harga pangan di pasar tidak bisa turun. Alhasil, para petani terpaksa merugi karena pemerintah melakukan impor di saat musim panen, sehingga merusak harga hasil panen para petani.
Berangkat dari itu, Edhy menegaskan, Prabowo-Sandi menawarkan solusi untuk mengatasi beragam permasalahan dimaksud, yakni dengan membangun sektor pertanian menjadi lebih baik serta membuka akses lapangan pekerjaan seluas-luasnya di sektor pertanian.
"Tidak ada cara lain, kita akan membangun sektor industri tapi berbasis pertanian. Kita memiliki kawasan yang jumlah luasnya seperempat dunia atau sekitar 27 persennya," ujar dia. (mts/osc)
Capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta).