TKN Tunggu Bawaslu Usut Dugaan Kampanye Munajat 212

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 22:38 WIB
TKN Tunggu Bawaslu Usut Dugaan Kampanye Munajat 212 Helatan munajat 212 pada Kamis (21/2) di Monas, Jakarta disebut sebagai bagian dari kampanye capres no urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily mengaku tak berniat melaporkan dugaan kampanye dalam kegiatan munajat 212 yang digelar di Monas, Jakarta pada Kamis (21/2) malam.

Ace mengatakan, pihaknya akan menunggu tindak lanjut dari Bawaslu DKI atas dugaan kampanye tersebut.

"Ndak perlu ada pelaporan karena Bawaslu DKI sudah lihat langsung dan memantau munajat 212," ujar Ace saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta, Jumat (22/2).


Ace menuturkan, dari sejumlah pemberitaan yang beredar di media massa telah jelas menunjukkan bahwa kegiatan itu disisipi kegiatan kampanye capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.


Bukti itu, kata dia, berupa pidato Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, simbol-simbol yang digunakan, hingga doa yang dibacakan Neno Warisman.

"Itu tendensinya kuat sekali politik. Jadi sudah seharusnya Bawaslu DKK usut sampai tuntas," katanya.

Politikus Golkar ini menepis pernyataan Fahri Hamzah yang menyebut bahwa simbol-simbol itu sekadar gimik belaka. Menurutnya, terdapat perbedaan yang sangat jelas antara gimik dan kampanye.

"Kalau suasana politik tentu kita bisa bedakan dong mana yang murni kegiatan ibadah dan mana yang kampanye," ucap Ace.


Ia pun menyayangkan sikap MUI DKI yang justru menjadi inisiasi kegiatan tersebut. Padahal, kata dia, cawapres Ma'ruf Amin yang masih menjabat sebagai ketua umum MUI tak pernah memanfaatkan MUI sebagai alat politiknya.

"Pak Kiai saja tidak menggunakan MUI untuk kepentingan politiknya," katanya.

Acara munajat 212 diketahui digelar sejak Kamis (21/2) sore hingga malam. Tidak ada pihak yang menyebut bahwa malam munajat 212 merupakan acara yang bertujuan untuk menggalang kekuatan politik. Baik untuk mendukung parpol, caleg, atau capres-cawapres tertentu.

Akan tetapi, dari pantauan di Monas pada pelaksanaan menunjukkan banyaknya pemandangan dan orasi yang bernuansa politis. Salah satunya pose dua jari yang identik dengan dukungan pada capres 02 Prabowo. (pris/rea)