Mahfud MD Datangi KPK, Bahas Korupsi Sektor Swasta

CNN Indonesia | Rabu, 27/02/2019 14:08 WIB
Mahfud MD Datangi KPK, Bahas Korupsi Sektor Swasta Mantan Ketua MK Mahfud MD di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (7/11/2018).. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mohammad Mahfud MD menyambangi Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (27/2). Tujuannya, membahas penanganan korupsi di sektor swasta.

"Itu juga didiskusikan bagaimana mewadahi secara hukum korupsi di swasta. Itu kan banyak korupsi di swasta," ujar Mahfud, ditemui di lokasi.

Ia mencontohkannya dengan kasus persekongkolan antara dokter dengan sebuah perusahaan obat. Modusnya, perusahaan memfasilitasi dokter dengan obat hasil produksinya obat perusahaan tersebut selalu digunakan.


"Misalnya pabrik obat memfasilitasi dokter tertentu agar setiap ada pasien obatnya itu. Itu kan melanggar undang-undang persaingan usaha, tapi kan swasta yang beli. Itu kan apakah bisa apa tidak. Kita diskusi hal seperti itu," ujarnya.

"Misalnya, ada orang membayar toko-toko ritel agar kalau nampung beras harus dari daerah ini, misalnya. Itu kan merugikan rakyat. Yang begitu-begitu itu kita diskusikan bagaimana ke depannya agar masuk korupsi sektor swasta," lanjut Mahfud.

Dia, yang juga merupakan anggota Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) itu, menilai Indonesia harus segera menangani kasus korupsi di sektor swasta. Negara lain, katanya, sudah mulai gencar membahas korupsi jenis ini.

Mahfud pun menyinggung ihwal praktik memperdagangkan pengaruh atau trading influence. Ketentuan terkait hal tersebut tercantum dalam Pasal 18 United Nation Convention Against Corruption (UNCAC).

"Di beberapa negara sudah pakai, korupsi di swasta sudah mulai banyak. Itu kita yang kemudian ada trading influence. orang menggunakan apa namanya pengaruh orang menggunakan pengaruh, untuk mendapat sesuatu, pengaruh jabatan," kata Mahfud.

Lebih lanjut, Mahfud mengatakan dirinya juga membahas terkait penanganan kasus korupsi di saat ini dan masa depan. Ia mengatakan pembahasan tersebut tidak kasus-perkasus, melainkan secara umum.

"Semua secara umum lah tidak spesifik menyebut kasus," kata dia.

[Gambas:Video CNN] (SAH/arh)