Polri Sebut Yogya dan Solo Rawan Konflik Politik Identitas

CNN Indonesia | Sabtu, 02/03/2019 00:03 WIB
Polri Sebut Yogya dan Solo Rawan Konflik Politik Identitas Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyebut Solo dan Yogyakarta rawan konflik komunal. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polri menyatakan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kota Solo termasuk dalam kota yang rawan terjadi konflik komunal saat pelaksanaan Pemilu 2019.

"Jogja dan Solo jadi satu dimensi yang memiliki potensi konflik komunal di situ," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jumat (1/3).

Menurut Dedi, di dua wilayah tersebut sebelumnya juga sudah beberapa kali terjadi konflik antarpendukung massa saat pemilu.


Selain rawan konflik komunal, Dedi menyebut Yogyakarta dan Solo rentan konflik yang disebabkan oleh politik identitas.

"Di situ juga sangat rawan politik identitas ya yang mengarah pada intoleransi," ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, sambung Dedi, pihak kepolisian telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi, baik preemtif maupun preventif.

"Penegakan hukum juga dilakukan bila peristiwa tersebut terjadi dan ada tersangkanya," ucap Dedi.

Sebelumnya, Polri juga telah mengungkapkan 10 Polda yang memiliki kerawanan tinggi pada pelaksanaan Pemilu 2019. Yakni Polda Maluku Utara, Polda Metro Jaya, Polda NTT, Polda Papua, Polda Gorontalo, Polda Maluku, Polda Papua Barat, Polda Aceh, Polda Kepulauan Riau, Polda Sulawesi Tengah.

Untuk tingkat kabupaten, daerah yang dianggap rawan antara lain Boven Digoel, Anambas, Halmahera Utara, Nduga, Puncak Jaya, Nabire, Waropen, Mamberamo Tengah, Sarmi, dan Jayawijaya.

Sedangkan untuk tingkat kota, daerah yang rawan di antaranya Gorontalo, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Depok, Ternate, Langsa, Kepulauan Tidore, Banjar, Bengkulu, dan Jogja.

[Gambas:Video CNN] (dis/arh)