BPPTKG juga belum akan meningkatkan jarak aman untuk aktivitas masyarakat, karena status Gunung Merapi saat ini masih tetap di level II atau Waspada. Sebelumnya, BPPTKG mengimbau kepada warga agar tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Hal itu karena jarak luncur awan panas guguran masih dalam radius aman dan tidak mengancam keselamatan penduduk di pemukiman yang berjarak paling dekat 4,5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, BPPTKG melaporkan terjadi tujuh kali awan panas guguran pada pukul 04.51 WIB, 04.54 WIB, 05.03 WIB, 05.07 WIB, 05.10 WIB, 05.33 WIB, dan 05.40 WIB.
BPPTKG menyatakan baru akan mengevaluasi kembali status tingkat aktivitas Gunung Merapi bila terjadi guguran lava atau awan panas guguran yang meluncur sejauh lebih dari tiga kilometer.
Hanik mengungkapkan rangkaian awan panas guguran terjadi karena dorongan suplai magma dari dalam kantong magma menuju permukaan yang bercampur dengan gas.
Sementara itu, perbedaan jarak luncuran awan panas guguran tergantung pada banyak sedikitnya akumulasi gas dan material yang terdorong dari dalam kantong magma.
"Magma itu kan ada gasnya, ada material magmanya itu sendiri, gitu ya. Jadi pada saat akumulasi banyak akan meluncur agak banyak, kalau akumulasi gasnya sedikit ya hanya kecil aja luncurannya dan sekarang memang magma kalau menuju ke permukaan sudah langsung meluncur turun ke bawah," kata Hanik.
Meski demikian, sambungnya, tekanan yang dihasilkan masih tergolong kecil. Hanik juga kembali menegaskan, jika saat ini Gunung Merapi sedang memasuki fase pembentukan kubah lava. Hal itu sesuai dengan karakter dari Gunung Merapi yang tipe erupsinya adalah efusif.
Menurut analisis morfologi kubah lava Gunung Merapi yang dirilis BPPTKG untuk periode 22-28 Februari 2019, volume kubah lava masih relatif sama dengan data pekan sebelumnya yakni mencapai 466 ribu meter kubik.
"Jadi Merapi pada saat sekarang fasenya adalah fase tumbuh kubah lava. Erupsi merapi ya seperti ini adalah erupsi efusif, ditandai dengan pertumbuhan kubah lava atau awan panas. Ini lah karakternya Merapi," ucapnya.
Hanik menambahkan hingga saat ini, BPPTKG belum melihat peningkatan frekuensi awan panas guguran.
Menurut perhitungan BPPTKG, Gunung Merapi baru memuntahkan setidaknya 23 kali awan panas guguran sejak pertama kali terjadi pada 29 Januari 2018 lalu. Sementara bila merujuk pada erupsi Gunung Merapi pada 2006, dalam satu hari bisa terjadi puluhan kali awan panas guguran.
"Dari parameter-parameter yang ada itu belum mengkhawatirkan. Jadi masih tenang-tenang saja. Insya Allah kami terus memantau selama 24 jam," ucap Hanik.
(dhe/vws)