LIPI Bantah Musnahkan Buku Karena Isu Reorganisasi

CNN Indonesia | Senin, 11/03/2019 21:35 WIB
LIPI Bantah Musnahkan Buku Karena Isu Reorganisasi Ilustrasi buku dimusnahkan. (Janaka Dharmasena/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Dokumentasi dan Data Ilmiah (PDDI) mengklaim sedang berupaya untuk meningkatkan kualitas pendokumentasian informasi ilmiah serta penyediaan akses informasi ilmiah kepada publik.

Salah satunya melalui mekanisme digitalisasi koleksi dengan melakukan proses weeding atau penyiangan koleksi yang sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman serta secara fisik sudah rusak parah.

Pelaksana Tugas Kepala PDDI LIPI, Hendro Subagyo menegaskan mekanisme weeding dan stock opname ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebijakan reorganisasi LIPI yang sebelumnya ramai diberitakan.


"Mekanisme ini adalah mekanisme yang seharusnya berjalan rutin setiap tahun yang terakhir kali kami lakukan pada tahun 2015 silam," ujar Hendro lewat keterangan tertulis kepada redaksi, Senin (11/3).


Hendro kemudian menjelaskan proses penyiangan ini disalahartikan sebagai penghapusan koleksi disertasi dan tesis dengan menjual koleksi tersebut. Padahal kata dia, mekanisme weeding adalah proses normal di dunia perpustakan.

"Tujuannya untuk memeriksa koleksi perpustakaan, judul per judul untuk penarikan permanen berdasarkan kriteria penyiangan, terutama kondisi fisik dari koleksi tersebut," tuturnya.

PDII-LIPI pada tahun 2018 menetapkan kebijakan penyiangan koleksi dengan memfokuskan penyiangan untuk koleksi tercetak yang jarang digunakan oleh pengguna, seperti Majalah Catu (Jurnal Internasional) yang dilanggan tahun 1991-1998, Jurnal Nasional, Tesis/Disertasi, dan laporan penelitian (hibah).

Lebih lanjut Hendro menambahkan Revolusi Industri 4.0 memungkinkan pertukaran informasi antar lembaga dapat dilakukan secara digital. Ditambah lagi, perkembangan teknologi informasi saat ini telah mendisrupsi perilaku pencarian informasi perpustakaan dan proses penerbitan literatur.

Penerbitan jurnal khususnya di Indonesia sudah diarahkan untuk diterbitkan secara online dengan tujuan memperluas jangkauan pembaca. Hendro menjelaskan berdasarkan data dari ISJD Neo (www.isjd.pdii.lipi.go.id) terdapat 14.801 judul jurnal yang dapat diakses secara online.

"Kemudian penerbitan buku juga sudah mulai bergeser ke dalam bentuk digital," ujarnya.


Saat ini, koleksi-koleksi fisik dari majalah dan jurnal internasional, sudah diganti dengan akses langganan versi digital. Sedangkan koleksi majalah dan jurnal dalam negeri, kata Hendro, termasuk yang dipertahankan koleksi fisiknya.

"Koleksi-koleksi penting dan bersejarah juga tetap kami simpan. Meskipun ada digitalisasi, fisiknya tetap kami pertahankan," ujarnya.

Sementara untuk koleksi tesis dan disertasi yang masuk dalam literatur kelabu (grey literature), menurut Hendro, tidak dipertahankan dalam bentuk cetak karena koleksi yang disimpan di PDDI adalah salinan tesis dan disertasi untuk dokumentasi metadata.

"Sebelum dilakukan penyiangan atau digitalisasi, PDDI memastikan tesis dan disertasi aslinya masih tersimpan di perguruan tinggi asal," katanya. 


Sebelumnya, Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menyebut tesis dan disertasi di Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI telah dimusnahkan.

Dia tidak mengatakan jumlah secara rinci, namun diperkirakan tesis dan disertasi itu diangkut oleh dua truk.

"Rencana mau atau akan didigitalisasi, tapi digitalisasi belum dilakukan namun dua truk buku, disertasi dan tesis sudah dikiloin dan dimusnahkan," tutur Haris saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (11/3).

Haris menyebut itu semua adalah bagian dari kebijakan reorganisasi karyawan yang dilakukan kepala LIPI Laksana Handoko. Diketahui, Haris bersama sejumlah peneliti lainnya sempat mengadu ke DPR karena tidak setuju dengan kebijakan reorganisasi tersebut.

Peneliti politik senior LIPI Asvi Warman Adam mengatakan hal serupa. Asvi menyebut ada 30 ribu tesis dan disertasi yang hilang dari perpustakaan PDDI. Meski demikian Asvi belum bisa memastikan karya-karya itu dimusnahkan seperti dikatakan Haris.

"Jumlahnya 30 ribu. Berdasarkan informasi yang saya terima, penghilangan itu terjadi pada 9 dan 10 Februari atau akhir pekan. Jadi pas enggak ada orang," ucap Asvi.

(dal/DAL)