TKN Nilai Tim Prabowo Takut soal Cuti Jokowi dan Manuver Agum

CNN Indonesia | Selasa, 12/03/2019 17:24 WIB
TKN Nilai Tim Prabowo Takut soal Cuti Jokowi dan Manuver Agum Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga menilai kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno takut mengalami kekalahan di Pilpres 2019. Hal ini menyusul kritik yang disampaikan kubu Prabowo soal cuti kampanye Jokowi maupun terkait manuver Agum Gumelar.

Menurut Arya, kubu Prabowo ketakutan jika Jokowi tak mengambil cuti kampanye, maka akan membuat selisih kekalahan Prabowo terhadap Jokowi semakin besar di Pilpres 2019.

"Iya, bentuk ketakutan mereka. Makanya suruh cuti terus, Agum dikritik, kami lihat hampir semua elitenya minta Pak Jokowi cuti, karena mereka takut lihat Pak Jokowi kerja, karena kalau Pak Jokowi kerja makin jauh," kata Arya di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Selasa (12/3).


Lebih lanjut, Arya menyindir para politikus Partai Gerindra yang tak pernah mengkritik Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengambil cuti kampanye ketika maju Pilpres 2009 silam. Kala itu, SBY sebagai presiden petahana berpasangan dengan Boediono di Pilpres.


Padahal, kata Arya, saat itu Prabowo sendiri tengah maju sebagai calon wakil presiden berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri melawan pasangan SBY-Boediono.

"Dulu Pak Prabowo lawan SBY loh di [Pilpres] tahun 2009, emang dia ngomong kritik [presiden] cuti-cuti? Enggak loh, kalau Pak SBY cuti, siapa presidennya waktu itu?" Kata dia.

"Kalau saya bilang justru sekarang mereka yang panik, nyuruh-nyuruh Pak Jokowi cuti, dulu Fadli Zon diam-diam saja, enggak ngomong cuti-cutian Pak SBY," tambahnya.


Selain itu, Arya menilai langkah Agum Gumelar untuk membuka tabir sejarah Reformasi tahun 1998 sudah tepat.

Hal ini terkait pernyataan Agum yang mengkritik dukungan SBY kepada Prabowo. Menurut Agum, SBY termasuk salah satu dari tujuh anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang ikut menandatangani surat rekomendasi berisi pemecatan terhadap Prabowo.

Arya menyatakan langkah Agum itu sebagai langkah untuk mengingatkan para kelompok milenial mengenai sejarah masa lalu bangsa Indonesia.

"Ini mengingatkan sejarah, bukan manuver musiman, para pelaku sejarah pasti mengingatkan, ini ungkapan sejarah aja," kata dia.

(rzr/pmg)