Beberapa waktu sebelum perhelatan Asian Games 2018, Anies merombak jalur pejalan kaki di kawasan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin.
Anies memerintahkan bawahannya membongkar trotoar dan menggantinya dengan rumput. Ia beralasan untuk mempercantik Jakarta dan berjanji akan membongkarnya usai Asian Games.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terbaru, Anies merevitalisasi tiga JPO di Sudirman-Thamrin tepatnya di Bundaran Senayan, Polda Metro Jaya, dan Gelora Bung Karno.
JPO tersebut didesain ulang dengan konsep 'kekinian' dan menelan dana Rp56 miliar yang diambil dari kompensasi koefisien lantai bangunan (KLB).
Pelican crossing di kawasan Senayan. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Hal itu terlihat dari fokus penataan Anies yang berputar di kawasan Sudirman-Thamrin. Padahal fasilitas di kawasan itu sudah baik ketimbang daerah lainnya di Ibu Kota.
"JPO-JPO estetika tadi dampaknya apa sih? Apakah dengan jembatan puluhan miliar rupiah itu orang jadi menggunakan dan memilih berjalan kaki? Paling hanya ramai di medsos karena instagramable," kata Nirwono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (13/3).
Nirwono berkata jika memang serius membenahi JPO di Jakarta, masih banyak jembatan yang rusak dan butuh perhatian. Pemprov DKI juga sudah pernah mendatanya, tetapi belum semua dibenahi karena kekurangan dana.
Namun saat mendapat kucuran dana dari kompensasi swasta, Anies malah menggunakannya untuk kosmetik. Nirwono melihat belum ada niatan untuk serius membenahi fasilitas publik.
JPO hasil revitalisasi di kawasan Sudirman-Thamrin jadi spot foto favorit warga Jakarta. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
"Dalam konteks tadi trotoar aman, nyaman, JPO yang aman, nyaman. Bagaimana beralih ke transportasi masal kalau keamanan dan keselamatan pejalan kaki di trotoar dan JPO tidak dijamin?" tuturnya.
Namun, saat ini Jakarta baru berfokus menerapkan transit oriented development (TOD). Konsep ini menata kota dengan menyatukan berbagai fasilitas, seperti stasiun, apartemen, dan pusat perbelanjaan dalam satu titik. Fokus penataan agar masyarakat beralih ke transportasi publik.
"Seharusnya Jakarta lompat saja ke TOC, itu memungkinkan. Ini kita baru demam TOD, di saat Amerika, Kanada, Perancis, Australia sudah TOC. Orang sudah tinggalkan kita baru mulai," ucapnya.
Dihubungi terpisah, pakar kebijakan publik Trubus Rahadiansyah melihat kebijakan penataan kota Anies sedikit melenceng dari perda.
Selain itu, ada ketimpangan anggaran penataan kota di Jakarta Pusat dan daerah lainnya. Ia menyebut tak heran jika Wapres Jusuf Kalla menyebut Jakarta Pusat layaknya Singapura dan Jakarta Utara seperti Bangladesh.
Dia menyarankan Anies untuk kembali menata prioritas pembangunan. Agar tidak terjebak pada kebijakan kosmetik dan mengesampingkan kebutuhan sesungguhnya warga Jakarta.
"Seharusnya ada blue print agar ada prioritas jelas jangka pendek, jangka menengah, dan panjang. Agar kalaupun berganti gubernur tetap akan jalan," ujar Trubus.
[Gambas:Video CNN] (dhf/wis)
Pelican crossing di kawasan Senayan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
JPO hasil revitalisasi di kawasan Sudirman-Thamrin jadi spot foto favorit warga Jakarta. (CNN Indonesia/Hesti Rika)