Apel Kebangsaan, Ganjar Soroti Fitnah dan Hoaks Merajalela

CNN Indonesia | Minggu, 17/03/2019 19:14 WIB
Apel Kebangsaan, Ganjar Soroti Fitnah dan Hoaks Merajalela Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menekankan kerukunan dalam orasi di Apel Kebangsaan di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (17/3). Ia juga menyoroti maraknya fitnah, hoaks dan perpecahan hanya karena perbedaan pilihan di Pemilu.

Dalam orasinya itu, Ganjar mengawali dengan mengutip pernyataan tokoh bangsa. "Saya mengutip pernyataan salah satu tokoh besar," kata Ganjar seperti di kutip dari video yang diunggah akun twiiter Pemerintah Provinsi Jawa Tengah @provjateng.

"Saya minta segenap rakyat Indonesia pada saat sekarang ini bersatu padu bulat berdiri di belakang pemimpin sekali lagi bersatu pada segala golongan segenap lapisan masyarakat seluruh bangsa. Bersatu padu di belakang pemimpin jangan kita menjadi kacau bekerja tidak tentu arah, hanya tuduh menuduh dan salah menyalahkan," demikian Ganjar mengutip pernyataan tokoh besar tersebut.


Pernyataan itu, kata Ganjar, adalah pernyataan Sukarno setelah diangkat menjadi Presiden pertama RI pada 18 Agustus 1945.

"Dari pidato itu kita perlu pahami bahwa sejak mulai republik ini berdiri, ancaman terbesar bagi kita sejatinya bukan dari luar," kata Ganjar.

Ancaman terbesar menurutnya adalah pertikaian antarwarga negara sendiri.

"Bung Karno sudah mengingatkan, janganlah menjadi kacau, bekerja tak tentu arah, hanya tuduh menuduh dan saling menyalahkan," katanya.
Orasi Kebangsaan Ganjar: Tak Cukup Cuma Nge-twit dan Nge-likeGubernur Jawa Tengah dalam apel kebangsaan di Semarang, Jawa Tengah, (CNN Indonesia/Damar Sinuko). (CNN Indonesia/Damar Sinuko)

Bung Karno saat itu meminta seluruh warga untuk bersatu padu, bulat, bekerja bersama-sama dalam suasana kebangsaan yang erat kokoh bulat dan mutlak," katanya.

Namun yang terjadi saat ini menurut Ganjar seperti sebaliknya. Fitnah merajalela, hoaks tumbuh tak terhitung yang menurutnya bagai pasir di padang gurun.

Saling tuduh dan memaki, pertengkaran dan saling serang bukan hanya terjadi di media sosial, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

"Mulai dari obrolan warung kopi sampe rapat resmi. Mulai dari diskusi orang sekolahan sampe forum keagamaan. Mulai dari jalanan hingga meja makan," ujar Ganjar.

Hal ini menurutnya tak bisa dibiarkan. Fitnah, hoaks, intoleransi, disintegrasi bangsa, termasuk aksi-aksi teror menurutnya juga tak bisa dibiarkan.

"Berkata tidak, mengecam, melawan, tidak lah cukup. Apalagi sekedar nge-twit, nge-like dan main tagar di media sosial. Percuma, tanpa aksi nyata tanpa diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari," katanya.

Yang bisa dilakukan menurut Ganjar sederhana yakni dengan menjaga lisan dan jari serta dewasa berdemokrasi. Selain itu budayakan bertanya saat tidak tahu serta rajin meminta klarifikasi.

Ganjar juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap rukun di tahun politik ini. Jangan hanya karena perbedaan pilihan di Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif, warga saling bermusuhan bahkan baku hantam.

"Beda pilihan hanya lima tahun sekali, ngapain kita gontok-gontokkan padahal kita selalu hidup bersama setiap hari," katanya.

Padahal, kata Ganjar, seperti apa yang disampaikan Chairil Anwar dalam puisi Aku, "Kita mau hidup seribu tahun lagi" dan apa yang pernah disampaikan Bung Karno bahwa "Republik Indonesia harus abadi".

Ganjar menegaskan bahwa yang mengingat kita selama ini adalah perbedaan. "Perbedaan adalah sunatullah, Bhineka Tunggal Ikan jadi pegangan kita semua," katanya.

Ganjar mengajak semua untuk merekatkan barisan karena kita adalah merah putih dan kita adalah Indonesia.
(sur/sur)