Dugaan itu disampaikan Marsudi saat dimintai pandangan terkait video viral di media sosial yang berisi keresahan seorang ulama bahwa NU akan tinggal fosil bila pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin kalah di Pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia pun membenarkan bahwa kelompok yang kerap menggempur NU tersebut tidak sepakat dengan acara seperti zikir, tahlil, hingga penyelenggaraan Hari Santri. Menurutnya, kelompok itu telah melancarkan beragam gempuran itu sejak lama.
Marsudi menegaskan, pihaknya sebenarnya tidak mempermasalahkan cara pandang kelompok tersebut yang berbeda dengan NU. Namun, menurutnya, perbedaan cara pandang tersebut seharusnya disampaikan dengan tidak menyalahkan ibadah atau keyakinan kelompok lain.
Dia melanjutkan, perbedaan cara pandang tersebut juga seharusnya tidak disampaikan dengan pernyataan yang menyalahkan kelompok lain hingga tudingan sumber perpecahan.
"Kalau kami berbeda boleh saja, tapi perbedaan itu untuk kita dan kita hendaknya punya akhlak moral perbedaan. Orang yang provokasi seperti ini yang sesungguhnya memecah belah," ujar Marsudi.
"Mereka ini akan membuat sebuah kekuatan yang apabila terjadi maka akan menjadikan Islam mainstream seperti NU ini, seperti pesantren ini, hanya akan menjadi fosil di masa depan," ujar ulama tersebut dalam video yang diunggah akun Twitter @RajaPurwa, Senin (18/3).
"Jangan berpikir masih ada tahlil, jangan berpikir masih ada zikir di Istana, jangan berpikir ada Hari Santri apabila sampe Kiai Ma'ruf kalah," sambung sang ulama.
[Gambas:Video CNN] (mts/arh)