Suharso Sebut Sejarah PPP Berubah Kelabu Setelah 2004

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 04:58 WIB
Suharso Sebut Sejarah PPP Berubah Kelabu Setelah 2004 Suharso Monoarfa. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa mengenang masa-masa kejayaan partai yang kini dipimpinnya tersebut sejak zaman orde baru hingga diawal-awal masa reformasi 1998 silam.

Hal itu ia sampaikan dalam pidato perdananya usai ditetapkan sebagai Plt Ketua Umum PPP di Mukernas III, Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/3).

Saat itu, Suharso menyatakan kala itu basis massa PPP sangat solid dan kerap mengirimkan banyak kader-kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislatif maupun kursi eksekutif.


Akan tetapi, Ia menyatakan bahwa kejayaan itu telah berakhir dan sejarah PPP telah berubah menjadi kelabu setelah Pemilu tahun 2004.

"kita juga merebut kursi-kursi di eksekutif di legislatif bahkan juga di Badan Pemeriksa Keuangan. Luar biasa. tetapi itu berhenti setelah 2004, sejarah kita setelah itu adalah sejarah yang kelabu," kata Suharso.

Lebih lanjut, Suharso menceritakan bahwa pemimpin PPP di masa lalu memiliki kompetensi dan integritas yang sangat tinggi.

Salah satu keberhasilan, kata dia, para pemimpin PPP kala itu mampu beradaptasi dengan kondisi rezim yang berubah-ubah namun tetap mampu mempertahankan kejayaan PPP.

"Bahkan, di awal reformasi adalah [Ketumnya] Pak Hamzah Haz, yang menurut saya ketika orang menyepelekan PPP di tangan beliau kita masih mencapai juara ketiga di pemilu [2004] dengan kursi 58 di DPR," ungkit dia.

Lebih lanjut, Suharso menyatakan kondisi itu berbanding terbalik dengan masa kepemimpinan PPP usai tahun 2004. Ia menyatakan dua mantan pemimpin tertinggi PPP sebelumnya justru kurang mencerminkan kepemimpinan yang baik di mata masyarakat.

Diketahui, bekas Ketua Umum PPP periode 2007-2014 Suryadharma Ali telah ditetapkan sebagai tersangka korupsi dana haji oleh KPK. Belakangan ini, Ketum PPP Romahurmuziy turut terjerat kasus suap jual beli jabatan.

"Maka saya mengajak kita semua pertama untuk kita berintrospeksi melihat apa yang sebenarnya yang salah pada kita," kata dia.

Tak berhenti di situ, Suharso turut menyinggung makna dari lambang PPP yakni Kakbah. Ia menegaskan bahwa lambang tersebut menyimbolkan perjuangan karena tak serta merta dapat diperoleh.

Ia menilai saat ini banyak kader PPP sendiri yang mengolok-olok lambang tersebut seperti tak ada artinya sama sekali

"Lambang kita itu luar biasa, tetapi kita seperti memperolok-olokkan. Lambang kita lambang apa? Kakbah," kata dia.

Suharso lantas mengajak semua kader PPP untuk bangkit. Ia pun kembali mempopulerkan istilah 'Coblos Kakbah' di Pemilu 2019 mendatang

"Kita lupa dengan Kakbah. Yuk coblos Kakbah. Apa? Yuk coblos Kakbah," kata Suharso. (rzr/age)