Peneliti Ungkap Penyebab Perbedaan Hasil Survei Capres

CNN Indonesia | Rabu, 27/03/2019 06:53 WIB
Peneliti Ungkap Penyebab Perbedaan Hasil Survei Capres CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali. (CNN Indonesia/Fachri Fachrudin)
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menyatakan perbedaan hasil survei Pilpres 2019 merupakan hal normal. Menurut dia perbedaan itu dipengaruhi oleh tiga hal, salah satunya momentum

"Dalam membaca hasil survei ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni momentum pelaksanaan hasil survei, metodologi, dan pertanyaan survei," ujar Hasanuddin dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (26/3).

Hasanuddin menjelaskan momentum pelaksanaan survei yang dilakukan setiap lembaga survei mempengaruhi hasil survei.


Ia mencontohkan hasil survei yang dilakukan pada bulan Januari pasti berbeda dengan hasil survei pada bulan Februari dan Maret. Perbedaan itu dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi pada bulan tersebut.

Terkait dengan metodologi, Hasanuddin berkata setiap lembaga survei memiliki sampel dan cara pengacakan pengambilan sampel yang berbeda. Metodologi yang berbeda juga bisa menghasilkan output yang berbeda.

"Ketiga adalah bentuk pertanyaannya. Apakah bentuk pertanyaan apakah sama ataukah beda, kalau beda hasilnya berbeda. Itu bisa menjadi sumber mengapa hasil sebuah survei beberapa lembaga survei berbeda-beda," ujarnya.

Hasil survei elektabilitas capres-cawapres menjadi perbincangan hangat belakangan ini setelah rilis survei terbaru dari Litbang Kompas, pekan lalu.

Dalam surveinya Litbang Kompas menemukan ada penurunan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dan kenaikan Prabowo-Sandiaga.

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dalam survei Litbang Kompas pada Maret sebesar 49,2 persen atau turun 3,4 persen dari elektabilitas bulan Oktober 2018 sebesar 52,6 persen. Sementara Prabowo-Sandi naik menjadi 37,4 persen dari elektabilitas pada Oktober 2018 yang mencapai 32,7 persen.

Hasil survei Litbang Kompas itu cukup berbeda dengan sejumlah lembaga lain yang menemukan tren peningkatan elektabilitas.

Hasanuddin meminta semua pihak tidak berlebihan dalam merespons hasil survei yang berbeda-beda. Sebab, ia melihat rentang perbedaan hasil survei yang ada selama ini tidak berbeda jauh.

Hasil studi Alvara terhadap tiga lembaga survei seperti Litbang Kompas, Indo Barometer, dan SMRC memperlihatkan hasil survei tidak berbeda jauh.

Ia mengakui hasil survei Litbang Kompas memang lebih rendah dari hasil survei yang lain. Begitupun dengan SMRC yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil survei yang lain. Namun ia menilai polemik hasil survei terjadi hanya karena persentase yang disampaikan Litbang Kompas di bawah angka psikologis, yakni 50 persen.

"Tapi kalau kita memperhitungkan nilai margin of error itu wajar-wajar saja," ujar Hasanuddin.

Dia menambahkan hasil survei bisa berbeda dengan hasil akhir KPU. Ia mengatakan hal itu dipengaruhi oleh tingkat partisipasi saat hari pencoblosan. Sebab, ia mengatakan kelemahan survei di semua lembaga adalah mengasumsikan seluruh pemilih.

"Padahal faktanya pemilih yang datang ke TPS tidak 100 persen. Pengalaman kita hanya 70 persen. Nah ketika 30 persen itu tidak terdistribusi secara normal ke kandidat ya pasti hasilnya beda," ujarnya.

Hal lain yang mempengaruhi perbedaan hasil survei dengan hasil akhir KPU karena keterbatasan waktu survei. Pada umumnya, Hasanuddin berkata survei dilakukan paling lama dua minggu. Padahal ia berkata dinamika jelang pencoblosan semakin meningkat.

"Padahal waktu semakin sempit ke hari-H semakin luar biasa. Itu satu minggu di akhir itu yang kadang tidak terfoto oleh survei," ujar Hasanuddin. (jps/wis)