Pengamat Ragukan Penurunan Elektabilitas Jokowi Versi Kompas

CNN Indonesia | Rabu, 27/03/2019 00:45 WIB
Pengamat Ragukan Penurunan Elektabilitas Jokowi Versi Kompas Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat politik Adi Prayitno mengaku heran dengan hasil survei Litbang Kompas yang menyebut elektabilitas Calon Presiden Joko Widodo menurun. Keheranan juga ia sampaikan terkait kenaikan elektabilitas Prabowo Subianto.

Keheranan disampaikannya karena ia melihat tidak ada fenomena negatif terhadap Jokowi dalam rentang waktu Januari hingga Maret 2019.

"Kalau ada survei yang memposisikan Jokowi ini agak turun perlu dipertanyakan. Aspek apa yang kemudian membuat Jokowi ini turun," Adi usai diskusi publik bertema 'Analisis Hasil Survei: Mengapa Bisa Beda?' di Jakarta, Selasa (26/3).


Adi memaklumi elektabilitas Jokowi selaku petahana menurun jika dalam rentang waktu Januari hingga Maret terjadi fenomena besar. Misalnya, dalam waktu tersebut ada Pemutusan Hubungan Kerja massal. Hal itu diyakini bisa menjadi pemicu penurunan elektabilitas Jokowi.


Akan tetapi, ia melihat malah sebaliknya. Ia mengatakan tren di bidang ekonomi, pendidikan, hingga politik belakangan ini justru cenderung positif.

"Nyaris tidak ada peristiwa luar biasa yang mampu untuk menjelaskan bahwa Jokowi sedang tidak firm dalam kinerjanya. Ini makanya kemudian survei (Litbang) Kompas itu agak dipertanyakan oleh orang apa indikasi yang membuat Jokowi turun dan Prabowo naik," ujarnya.

Di sisi lain, Adi juga menyinggung soal kenaikan elektabilitas Prabowo. Ia menilai 'letupan' kampanye yang dilakukan Prabwo dan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno tidak dirasakan oleh rakyat.

"Cukup datar dan biasa-biasa saja," ujar Adi.

[Gambas:Video CNN]

Atas hal itu, ia pun menyarankan masyarakat untuk bersikap kritis sebelum menghakimi lembaga survei. Ia meminta masyarakat untuk memiliki preferensi tingkat kinerja dan kepuasan tersendiri dalam menilai kandidat, terutama calon petahana.

"Yang paling penting sebenarnya harus diketahui publik terhadap survei itu harus dicek apakah tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi ini bertambah atau berkurang. Karena kalau melihat tren secara umum tingkat kinerja dan kepuasan terhadap Jokowi cukup meningkat," ujarnya.

Sebelumnya, survei Litbang Kompas menyebut elektabilitas Jokowi menurun menjadi 49,2 persen jika di bandingkan dengan hasil survei pada Oktober 2018 yang masih sebesar 52,6 persen. Fenomena berbeda justru terjadi pada elektabilitas Prabowo-Sandiaga.

Hasil survei Litbang Kompas justru menunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi meningkat menjadi 37,4 persen jika di bandingkan dengan hasil survei Oktober 2018 sebesar 32,7 persen.

Survei Litbang Kompas itu dilakukan pada 22 Februari-5 Maret 2019 dengan melibatkan 2.000 responden secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi Indonesia. Margin of error survei dari hasil survei tersebut +/- 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.


(panji/agt)