ANALISIS

Serangan Beruntun 'Harga Mati' TNI ala Prabowo ke Jokowi

CNN Indonesia | Minggu, 31/03/2019 10:14 WIB
Serangan Beruntun 'Harga Mati' TNI ala Prabowo ke Jokowi Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto berjabat tangan saat mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu, 30 Maret 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto berulang kali menyebut Joko Widodo memperoleh informasi yang keliru dari bawahannya. Prabowo mengutarakan hal tersebut di dua segmen debat capres keempat di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3).

Pertama, mengenai pertahanan dan keamanan Indonesia yang sebenarnya masih lemah menurut Prabowo. Kedua, saat tanya jawab. Kala itu Prabowo bertanya mengapa Jokowi mengizinkan pihak asing mengelola bandara dan pelabuhan.

"Pak Jokowi ini sahabat saya. Ini pembantu bapak banyak yang memberikan info menyesatkan," tutur Prabowo.


Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menganggap Prabowo tidak hanya menyerang Jokowi dengan pernyataan tersebut, tetapi juga ditujukan kepada para bawahannya. Menurut dia, itu nampak jelas lantaran Prabowo berbicara demikian lebih dari sekali selama debat berlangsung.


"Itu serangan bersayap ganda," kata Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu malam (30/3).

Adi mengatakan pernyataan Prabowo jelas ditujukan kepada bawahan Jokowi. Namun, bukan berarti Jokowi menjadi tidak terkena. 

Adi mengamini bahwa Prabowo berulang kali menyatakan tidak bermaksud menyalahkan Jokowi. Akan tetapi, walau bagaimanapun, debat capres adalah panggung antara Prabowo dan Jokowi. Maka Jokowi yang pertama kali terkena serangan.


Publik bisa saja memberikan sentimen positif kepada Prabowo dan negatif kepada Jokowi. Adi mengatakan itu bisa terjadi lantaran Jokowi tidak mampu membantah dengan tegas. 

"Serangan Prabowo tadi itu terukur dan rasional. Terutama di bidang pertahanan dan keamanan," kata Adi.

Ihwal benar tidaknya pernyataan Prabowo, itu urusan lain. Bisa saja baru terkuak 1 hingga 2 hari kemudian bahwa apa yang diucapkan mantan Danjen Kopassus itu keliru. Namun, tetap saja, Prabowo sudah kepalang mendominasi debat.

"Apalagi Jokowi tidak membantah serangan-serangan itu. Bandara, pelabuhan yang dikuasai asing. Jadi seakan-akan yang disampaikan 02 itu benar," kata Adi.


Adi lantas menyoroti sikap Prabowo yang menyampaikan tidak bermaksud menyalahkan Jokowi mengenai kelemahan Indonesia saat ini di bidang pertahanan dan keamanan. Dia pun tidak menyalahkan Jokowi mengenai bandara serta pelabuhan yang dibiarkan dikelola oleh pihak asing.

Menurut Adi, Prabowo bersikap demikian karena tidak ingin terkesan galak atau represif. Adi mengatakan Prabowo ingin mempertahankan citra seperti yang ditunjukkan pada debat capres pertama dan kedua. 

"Dia seakan-akan tunduk pada image yang telah dia bangun sejak debat pertama dan kedua. Biar nampak elegan," ujar Adi.

"Tapi, meskipun sudah minta maaf, Jokowi juga sudah cukup mendapat serangan yang bertubi tubi. Sebagai penantang yang enggan nampak agresif, terkesan tidak ingin menyalahkan Jokowi tapi menganggap ini persoalan bersama," ujarnya.


Jika Bandara dan Pelabuhan Dikelola TNI

Di salah satu segmen tanya jawab, Prabowo bertanya mengapa Jokowi mengizinkan pihak asing dalam pengelolaan bandara dan pelabuhan. Menurut Prabowo, kedua prasarana tersebut sebaiknya dikendalikan penuh oleh negara.

"Saya tidak terima jika dikelola asing," kata Prabowo.

Jokowi menanggapinya dengan santai. Menurut Jokowi, Prabowo seolah terlalu khawatir dengan negara lain.


Jokowi mengatakan bahwa pihak asing penting dalam aspek perekonomian Indonesia karena menanam investasi. Meski begitu, Jokowi menggarisbawahi dirinya tetap akan menjaga kedaulatan nasional.

Prabowo nampak kurang puas dengan jawaban Jokowi. Dia mengatakan dengan tegas bahwa dulu, saat Indonesia tidak sekaya sekarang, angkatan perang tetap diberi perhatian lebih. Prabowo menyebut Soekarno dulu pun membangun serta mengelola pelabuhan serta bandara bukan sebatas untuk kepentingan ekonomi.

"Masalah bandara, bagi kami dalam strategi perang itu strategis. Bukan dagang atau ekonomi. Kami diperintahkan mati untuk merebut bandara," tutur Prabowo.


Pengamat Institue for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menilai Prabowo tidak terlalu jelas kala memaparkan peran TNI dalam pengelolaan bandara dan pelabuhan. Namun, jika yang dimaksud adalah perluasan peran TNI, akan ada dampak negatif yang timbul.

"Persepsi publik terhadap ketidakmampuan sipil menguat," kata Khairul.

Implikasi negatif lainnya yakni kualitas demokrasi menjadi turun. Ini berkenaan dengan persepsi terkait penurunan kepercayaan terhadap kemampuan sipil yang sebelumnya diutarakan.

"Dan yang tak kalah mengkhawatirkan, potensi kekerasan negara meningkat dan ketakutan meluas," ucap Khairul.


Khairul tidak menafikan bahwa perluasan peran TNI tetap memberikan dampak positif. Misalnya, implementasi kebijakan pemerintah bisa lebih cepat terlaksana dan minim gangguan.

"Lebih banyak dampak negatifnya," kata Khairul.

[Gambas:Video CNN] (bmw/DAL)