Polisi Beri Penanganan Khusus ke Kasus Pengeroyokan Siswi SMP

CNN Indonesia | Rabu, 10/04/2019 12:44 WIB
Polisi Beri Penanganan Khusus ke Kasus Pengeroyokan Siswi SMP Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi akan memberikan penanganan khusus dalam mengusut kasus penganiayaan terhadap siswi SMP di Pontianak bernama Audrey. Ia diduga dikeroyok oleh tiga siswi SMA.

Penanganan khusus diberikan lantaran korban dan pelaku masih berada di bawah umur.

"Bantuan untuk korban dan tersangka yang di bawah umur harus ada pendampingan, terhadap anak-anak yang memiliki permasalahan di bidang hukum itu diperlakukan khusus perlakuannya," tutur Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (10/4).


Pendampingan akan dilakukan oleh psikolog dari Biro SDM Polda Kalbar, KPAI, hingga psikiater.

Dedi menjelaskan kasus Audrey sudah ditingkatkan ke tahap penyidikan. Tiga pelaku dalam kasus tersebut, kata Dedi, telah diidentifikasi oleh penyidik Polresta Pontianak.

Ketiga pelaku masing-masing berinisial F, P, dan N dan berusia 17 tahun.

Dedi menuturkan para pelaku merupakan teman satu sekolah. Ia menyampaikan kemungkinan para pelaku ini melakukan aksi penganiayaan karena mendengar ada temannya yang tengah berselisih dengan korban.

"Secara spontan teman-temannya ini membantu untuk melakukan penganiayaan terhadap korban A," ucap Dedi.

Dari hasil pemeriksaan sementara, para pelaku menggunakan tangan kosong saat menganiaya Audrey.

Lebih lanjut, disampaikan Dedi bahwa penyidik telah meminta keterangan dari ibu korban. Rencananya, hari ini penyidik juga kembali memeriksa ibu korban serta sejumlah saksi yang melihat langsung peristiwa tersebut.

Untuk korban sendiri, kata Dedi, sampai saat ini belum bisa dimintai keterangan.

Audrey dikeroyok oleh tiga siswi SMA yang dibantu oleh sembilan siswi lainnya dari berbagai sekolah di Pontianak karena masalah saling komentar di media sosial pada 29 Maret lalu. Akibatnya, Audrey mendapat perawatan medis di rumah sakit.

Orang tua korban baru melaporkan kejadian ke pihak berwenang satu pekan kemudian atau pada Jumat, 5 April lalu.

Kasus Audrey sempat viral di media sosial, bahkan jadi salah satu topik terpopuler di twitter pada Selasa (9/4) dengan tagar #JusticeForAudrey.

Seorang warganet juga membuat petisi di laman change.org dengan judul 'KPAI dan KPPAD, Segera Berikan Keadilan untuk Audrey #JusticeForAudrey!'.

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Eka Nurhayati Ishak mengatakan berdasarkan aduan dari korban yang didampingi langsung oleh ibunya, korban mengalami kekerasan fisik dan psikis, seperti ditendang, dipukul, diseret sampai kepalanya dibenturkan ke aspal.

"Dari pengakuan korban, pelaku utama penganiayaan ada tiga orang, sedangkan sembilan orang lainnya hanya sebagai penonton," kata Nurhayati seperti dilansir Antara. (dis/wis)