BMKG: Kenaikan Air Laut Tak Signifikan Usai Gempa Sulteng

CNN Indonesia | Jumat, 12/04/2019 22:44 WIB
BMKG: Kenaikan Air Laut Tak Signifikan Usai Gempa Sulteng Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan tidak ada kenaikan muka air laut signifikan usai gempa 6,8 skala Richter mengguncang Sulawesi Tengah, Jumat (12/4). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengatakan tidak ada kenaikan muka air laut yang signifikan usai gempa 6,8 skala Richter mengguncang Sulawesi Tengah, Jumat (12/4).

"Tidak menunjukkan kenaikan air laut yang signifikan, tidak menunjukkan hal yang mengkhawatirkan," kata Dwikorita di Kantor BMKG, Jumat (12/3).
Atas dasar itu, kata Dwikorita, BMKG pada pukul 19.47 WIB menyatakan peringatan dini tsunami berakhir.

Dwikorita juga menyampaikan bahwa hingga pukul 21.00 WIB, belum ada laporan kerusakan akibat gempa di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tenggah, tersebut.


"Sejak pukul 21.00 WIB, kami cek ke petugas di lapangan belum ada laporan, di sosmed bahwa ada kerusakan," ujarnya.

Dwikorita menuturkan gempa bumi yang terjadi pada pukul 18.40 WIB itu dirasakan di sejumlah wilayah, di antaranya Poso, Buol, Morowali, Banggai, dan Palu dengan intensitas IV MMI.
Di Kolaka Utara dan Toli-toli gempa dirasakan dengan intensitas III-IV MMI. Sementara itu, di Sumalata, Kotamobagu, Palopo, Kolaka, Makassar, dan Kepulauan Konawe gempa dirasakan dengan intensitas guncangan III MMI.

Gempa tersebut mengguncang wilayah Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, Jumat (12/4) sekitar pukul 18.40 WIB dengan kekuatan magnitudo 6,8.

BMKG mencatat pusat gempa berada 85 km barat daya Banggai Kepulauan. Gempa berlokasi 1.90 Lintang Selatan dan 122,54 Bujur Timur.

Gempa diperkirakan bisa memicu tsunami. Namun, pada pukul 19.47 WIB, BMKG menyatakan peringatan dini tsunami telah berakhir. (dis/has)