Para Pencoblos di Kampung Akuarium dan Luka Lama Gusuran Ahok

CNN Indonesia | Rabu, 17/04/2019 13:13 WIB
Para Pencoblos di Kampung Akuarium dan Luka Lama Gusuran Ahok Warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara menyalurkan suaranya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. (CNN Indonesia/Ulfa Arieza)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di atas tanah gusuran Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, berdiri dua tempat pemungutan suara (TPS) Pemilu 2019. TPS untuk Pemilu 2019 di tempat itu adalah 033 dan 040. Dua TPS itu dibangun dengan menggunakan tenda yang dipasang warga.

TPS 033 terdiri dari 211 Daftar Pemilih Tetap (DPT), yakni laki-laki sebanyak 108 orang dan perempuan 103 orang. Sedangkan, TPS 040 terdiri dari 271 DPT, yakni laki-laki sebanyak 144 orang dan perempuan 127 orang.

Bicara soal memilih, warga kampung Akuarium mengaku sudah memiliki ketetapan hatinya masing-masing. Namun, mereka satu hati soal kekesalan akibat tempat mereka yang digusur saat DKI Jakarta dipimpin Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).


Salah satunya, Maesaroh (41) yang masih bertahan di Kampung Akuarium setelah tempat tersebut digusur sejak 2016 silam.

Maesaroh menyatakan kekecewaannya pada Jokowi. Dengan gamblang, ia mengatakan pilihannya kali ini berbeda pada Pilpres 2014 silam.

"Dulu di sini kami selalu mendukung dia (Jokowi) 100 persen. Dari dia jadi Gubernur DKI Jakarta, presiden, kami selalu dukung. Setelah didukung kok kami malah disia-siakan," katanya kepada CNNIndonesia.com di depan TPS 040.


Belum hilang dari ingatan Maesaroh, masa-masa sulit ketika tempatnya bernaung dibongkar paksa. Ia bersama dengan warga lainnya bahkan meminta bantuan kepada Presiden RI Jokowi hingga mendatangi Istana Negara, namun tak digubris. Jokowi sendiri dalam Pilpres 2019 merupakan capres nomor urut 01.

Saat ini, Maesaroh beserta empat orang anakanya masih bertahan di Kampung Akuarium. Ia terpaksa tinggal di shelter sementara yang disediakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lantaran memiliki usaha tak jauh dari Kampung Akuarium.

Hal senada disampaikan oleh Edi Rulianto (50). Pria yang kesehariannya sebagai pedagang ini mengaku menginginkan sosok pemimpin Indonesia baru. Ia menyatakan tidak ingin terjebak pada kesalahan yang sama seperti Pilpres 2014 silam.

Sama seperti Maesaroh serta warga Kampung Akuarium lainnya, Edi telah kecewa dengan janji manis Jokowi.

"Kalau ada istilah pengalaman adalah guru yang paling berharga, itu yang kami dapatkan pada pengalaman 2012 dan 2014. Makanya, kenapa kami tidak pilih yang lama karena pengalaman itu, 2012 dan 2014 ia sudah tapi semua janjinya tidak ditepati," katanya.

Meski pernah dikecewakan, ia mengaku tidak trauma dengan pesta demokrasi seperti ini. Kali ini, kata Edi, pilihannya telah didasarkan tindakan nyata dari capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

"Ketika dibongkar dan terpuruk Pak Prabowo lah yang membantu kami. Padahal, ia tidak punya kepentingan apa-apa, hanya sebagai pribadi," tutur Edi.

"Ia yang memberikan tujuh tenda di sini, posisinya saat itu bukan sebagai capres atau pengusung gubernur. Hanya sebagai partai politik, tetapi ia tidak pernah bicara sebagai partai politik," ucapnya.

Sementara itu, Dharma Diani selaku koordinator warga Kampung Akuarium meyakini mayoritas warganya telah berpindah haluan suara. Ia menyatakan mayoritas warganya menyumbangkan suara kepada Prabowo.

"Kebanyakan warga yang saya lihat dan dengar semuanya berharap dengan adanya pemimpin yang baru," katanya.

Saat ini, ada 103 Kepala Keluarga (KK) yang bertahan di Kampung Akuarium.

Melihat Para Pencoblos di Tanah Gusuran Kampung AkuariumWarga Kampung Akuarium menyalurkan suaranya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Wilayah ini merupakan kawasan yang digusur pada April 2016 saat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjabat Gubernur DKI Jakarta. (CNN Indonesia/Ulfa Arieza)

Mereka sempat melakukan gugatan atau class action ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait tempat tinggal mereka. Namun, gugatan tersebut telah dicabut pada Juni 2018 setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 878 Tahun 2018. Lewat keputusan gubernur itu, Anies menjamin warga Kampung Akuarium bisa kembali tinggal di sana.

Berdasarkan pemantauan CNNIndonesia.com, proses pemungutan suara pada dua TPS di Kampung Akuarium itu telah selesai sekitar pukul 11.00 WIB. Setelahnya, proses penghitungan suara pun akan dilakukan lepas pukul 13.00 WIB.

"Forum pimpinan Jakarta Utara melakukan lokasi peninjauan ke beberapa TPS-TPS. Kita pastikan hari ini berjalan sesuai dengan harapan kita, yang kedua memang para petugas ini sudah menentukan bahwa jam 1 (13.00 WIB) nanti baru mulai penghitungan suara," ujar Wali Kota Jakarta Utara Ali Maulana Hakim saat meninjau TPS di Kampung Akuarium.

Ali mengakui tak semua TPS di wilayah administrasi yang dipimpinnya ditinjau hari ini. Hanya beberapa saja, termasuk di Kampung Akuarium.

"Kita ini sesuai dengan yang dari usulan wilayah-wilayah bahwa ini [Kampung Akuarium] adalah salah satunya yang dikunjungi," kata Ali.

"Jadi ini salah satu lokasi yg mendapat perhatian untuk dikunjungi, tidak ada maksud-maksud lainnya, cuma karena lokasinya strategis jadi kita ke sini, kan kita rombongan bawa bus ke sini. Alhamdulillah tidak ada hambatan semua berjalan sesuai harapan," ucapnya.

Melihat Para Pencoblos di Tanah Gusuran Kampung AkuariumWarga Kampung Akuarium melihat-lihat daftar caleg sebelum menentukan pilihan dalam Pemilu 2019. (CNN Indonesia/Ulfa Arieza)

Hari ini pemungutan suara Pemilu 2019 serentak dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Dalam Pemilu 2019, masyarakat Indonesia tidak hanya memilih capres dan cawapres tetapi juga para legislatif. Biayanya pun mencapai Rp24,8 triliun.

Ada lebih dari 192 juta orang terdaftar sebagai DPT. Mereka yang berada di Indonesia, akan memilih di 810.329 TPS yang dijaga oleh 7,2 juta panitia pemilu.


[Gambas:Video CNN] (ulf/kid)