Saat Pilkada DKI Jakarta sejumlah pihak yang saat ini tergabung dalam BPN mempercayai hitung cepat lembaga survei yang memenangkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Mereka bahkan langsung mengklaim kemenangan di Pilkada tersebut.
Direktur Materi dan Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Sudirman Said menjelaskan saat Pilgub DKI wilayah pantauan terbatas karena hanya di Jakarta dan tidak ada tanda-tanda kecurangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas dugaan itu, menurut Sudirman, temuan angka apapun saat ini wajib dicurigai. Terlebih angka-angka yang dikeluarkan oleh lembaga survei.
Rata-rata lembaga survei dalam hasil quick count dan exit poll menetapkan Jokowi-Ma'ruf Amin unggul di atas 54 persen dari Prabowo-Sandiaga.
Di sisi lain, BPN sejak hari pertama penghitungan suara telah menyatakan menolak mengakui hasil hitung cepat dan exit poll sejumlah lembaga survei.
Prabowo, dua hari usai pencoblosan bahkan menegaskan bahwa rakyat Indonesia sudah tidak percaya lagi dengan lembaga survei abal-abal yang merilis hasil pilpres 2019.
"Rakyat Indonesia sudah sadar, rakyat Indonesian tidak bisa dibohongi lagi," tegas Prabowo dalam orasi di hadapan pendukungnya di kediaman pribadi, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Jumat (19/4).
Sejumlah lembaga survei merespons tudingan itu dengan membuka data-data hasil survei plus metodologi yang digunakan. Itu dilakukan pada Sabtu pekan lalu.
Lembaga yang melakukan aksi buka-bukaan itu antara lain Center for Strategic and International Studies (CSIS), Indikator Politik, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan juga melakukan hal serupa. PDI Perjuangan bahkan menantang kubu Prabowo-Sandi melakukan hal serupa yakni membuka data dan metode penghitungan suara yang mereka lakukan sebagai dasar klaim kemenangan.
(tst/wis)