Amien Rais: Kalau Diajak Jihad, Saya Paling Depan

CNN Indonesia | Rabu, 24/04/2019 17:08 WIB
Amien Rais: Kalau Diajak Jihad, Saya Paling Depan Amien Rais menyatakan siap berada di barisan depan untuk menghadapi 'Perang Total' --istilah yang sempat dilontarkan oleh Wakil ketua TKN Moeldoko. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengaku siap untuk memimpin masyarakat untuk menghadapi perang total untuk memperebutkan kekuasaan.

Istilah perang total dilontarkan oleh Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN) Moeldoko pada Februari 2019. istilah itu merujuk pada strategi perang total yang diterapkan TKN pada Pilpres 2019.

Amien Rais bahkan menyatakan siap berada dalam barisan terdepan bersama rakyat jika terjadi perang total. Dia sempat menyinggung istilah jihad.


"Jadi kalau diajak jihad, saya paling depan Insya Allah," kata Amien saat menghadiri acara konsolidasi internal relawan Prabowo-Sandi di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta Timur, Rabu (24/4).
Menurut Amien, kubu pendukung Prabowo-Sandi sanggup menghadapi total war atau perang total dibanding pihak petahana atau yang dia sebut sebagai pihak penguasa. Kata dia, dalam sejarah tak ada istilah rakyat kalah dari penguasa jika keduanya saling berhadap-hadapan.

"Kita kalau ada total war, kita lebih sanggup dari total war insya Allah, tidak ada ceritanya rakyat kalah sama penguasa," kata Amien.

Pasangan Prabowo-Sandi kalah dari pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dalam hitung cepat sejumlah lembaga survei. Tapi, Prabowo dan BPN mengklaim telah memenangi Pilpres. Berdasarkan hitungan internal BPN, Prabowo-Sandi meraup 62 persen suara.

Dalam berbagai bidang ilmu politik yang diakui telah dipelajarinya, dia menyebut tak ada penguasa yang mampu mengalahkan kemauan rakyat. Sebab suara rakyat kata dia sama saja dengan suara Tuhan.
Amien Rais: Kalau Diajak Jihad, Saya Paling DepanPrabowo Subianto mendeklarasikan kemenangan Pilpres 2019. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Menurutnya pada Oktober nanti dipastikan akan ada pergantian kekuasaan di Indonesia.

"Tenang saja, nanti akan ada pergantian yang sejuk, yang konstitusional, demokratis, itu kemauan kita tapi kalau ngajak perang total saya kira kita lebih bergembira ria," katanya.

Meski sebelumnya menggunakan istilah jihad, dia meminta kepada relawan yang hadir untuk mengubah 'bungkus' perjuangan mereka dari yang semula disebut sebagai jihad menggunakan istilah lain.

Bungkusnya, kata dia, akan bagus jika disebut sebagai people power yang memasukkan unsur agama lain dalam perjuangan tersebut.

"Kami tahu bungkus dari perjuangan kita itu jangan jihad, bungkusnya enggak boleh, nanti orang-orang barat wah ini negara Islam," katanya.

Namun, lebih baik, katanya, bungkusnya adalah perjuangan people power. "People power itu adalah yang Islam, yang Kristen, yang Katolik, yang Hindu, yang Budha, yang Kongucu bersama-sama untuk meruntuhkan kebatilan dan kezaliman yang sudah kelewatan ini," kata dia.
[Gambas:Video CNN] (tst/ugo)