Empat Korban Hilang Banjir Bengkulu Ditemukan Selamat

CNN Indonesia | Selasa, 30/04/2019 19:05 WIB
Empat Korban Hilang Banjir Bengkulu Ditemukan Selamat Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut jumlah korban hilang berkurang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut korban hilang bencana longsor dan banjir di Bengkulu berkurang jadi sembilan orang dari sebelumnya berjumlah 13 orang. Empat korban ditemukan hidup dengan kondisi luka.

Korban tewas masih berada di angka 29 jiwa sama seperti data sebelumnya.

"Sampai saat ini penanganan darurat masih terus dilakukan, jumlah korban 29 meninggal dunia, sembilan hilang, empat ditemukan hidup," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Selasa (30/4).


Selain itu, Sutopo mengatakan ternak mati terdapat 211 ekor, seperti sapi, kerbau, domba dan kambing. Kerusakan fisik melanda 184 rumah, tujuh fasilitas pendidikan, 40 titik infrastruktur dan sarana prasarana KKP juga rusak.

Selain kerusakan fisik, juga terdapat sampah dan material lain yang hanyut terbawa banjir.

"Sampah dan material yang dihanyutkan banjir lumpur dan material lain memerlukan pembersihan, beberapa daerah telah menetapkan masa tanggap darurat 14 hari dan penanganan masih terus dilakukan," tuturnya.

Ulah Manusia

Sutopo mengatakan saat ini banjir sudah mulai surut. Menurutnya, banjir dan longsor di Bengkulu tak lain karena faktor alam dan ulah manusia. Yakni, curah hujan yang ekstrem sehingga sungai meluap dan didukung kerusakan lingkungan.

"Kita melihat luasan wilayah dari 19 kabupaten kota di Bengkulu, ini memang hujan sangat ekstrim sehingga sungai-sungai meluap ditambah kerusakan lingkungan di sana, perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi perkebunan, ada tambang, ada pembangunan-pembangunan perumahan di daerah rawan bencana," tuturnya.

Sutopo mengatakan korban jiwa banyak ditemukan di Bengkulu Tengah. Di wilayah itu terdapat delapan kawasan tambang yang cukup luas.

Dari pantauan yang dilakukan lewat satelit, Sutopo menjelaskan penambangan itu mengakibatkan ketidakseimbangan siklus hidrologi.

"Mengakibatkan ketidakseimbangan dari siklus hidrologi yang ada di dimana ketika terjadi hujan, air tadi menjadi aliran permukaan dan mencari sungai yang ada, hanya sedikit sekali yang meresap ke tanah," paparnya.

[Gambas:Video CNN] (gst/arh)