Fahri Tak Tertarik Alasan Hoaks Ratna Usai Mengaku Bohong

CNN Indonesia | Selasa, 07/05/2019 17:00 WIB
Fahri Tak Tertarik Alasan Hoaks Ratna Usai Mengaku Bohong Wakil Ketua DPR fahri Hamzah (kiri) menjadi saksi meringankan bagi ratna Sarumpaet (kanan) di PN Jaksel, 7 Mei. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengaku tidak tertarik lagi untuk mencari tahu alasan aktivis Ratna Sarumpaet berbohong soal penganiayaan.

Hal tersebut dikatakannya saat menjadi saksi meringankan untuk Ratna di sidang lanjutan kasus hoaks di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (7/5).

Awalnya, dia mengetahui soal berita Ratna dianiaya dari para wartawan yang menanyakan tanggapannya di DPR.


"Tanggal 2 Oktober selesai sidang paripurna di DPR, saya dihadang oleh media massa dan ditanyakan, berita ini rupanya tanggal 1 Oktober di medsos sudah ramai. Sehingga media menanyakan kepada saya, menanyakan itu kan sudah ada beritanya dan masyarakat sudah tahu," ujarnya.

Fahri pun mengaku pernah mencoba menghubungi Ratna pada 2 Oktober itu untuk memastikan peristiwanya. Namun Ratna tidak menggubris Fahri.

Foto wajah Ratna yang diklaim hasil penganiayaan, dalam selebaran dalam aksi  ‘Solidaritas Demokrasi untuk Ibu Ratna Sarumpaet’ di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018).Foto wajah Ratna yang diklaim hasil penganiayaan dalam pamflet aksi ‘Solidaritas Demokrasi untuk Ibu Ratna Sarumpaet’ di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Meski demikian, Fahri mengatakan dia pun memberikan pendapatnya karena sudah ditanya oleh media massa. Pernyataannya pun didasari dengan melihat foto wajah lebam Ratna di media sosial.

"Karena media sudah bertanya dan sudah ada reaksi secara umum saya bereaksi cukup keras juga. Tentu apalagi kita kenal bukan saja kenal sebagai pribadi tapi juga di ruang publik sebagai aktivis teater dan umurnya sudah 70-an tahun saya bereaksi cukup keras minta aparat melakukan tindakan," tuturnya.

Setelah memberikan pernyataan, Fahri mengaku dia juga sempat membuat tulisan soal keprihatinannya akan peristiwa tersebut. Tulisan itu juga melihat pada latar belakang Ratna sebagai aktivis dan krtitikus.

"Kami menganggap ini sebuah ancaman jadi harus ditangani secara tepat," tuturnya.

Pada 2 Oktober malam Fahri dan sejumlah aktivis lainnya mengadakan pertemuan di Dunkin Donuts, Cikini, Menteng. Dia pun tidak hadir di konferensi pers bersama Prabowo Subianto.

Fahri mengatakan pada 3 Oktober dirinya kembali menghubungi Ratna. Awalnya bukan Ratna yang menerima telepon Fahri, tetapi dia pun meminta supaya langsung disampaikan kepada Ratna.

Suasana penangkapan terhadap Ratna Sarumpaet di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Kamis (4/10/2018).Suasana penangkapan terhadap Ratna Sarumpaet di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Kamis (4/10/2018). (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)
"Telepon saya dijawab, saya bilang saya ingin bicara dengan Bu Ratna. Beliau bicara, 'Fahri, saya minta maaf, saya akan mengakhiri ini dan saya akan konpers'," ujarnya.

Setelah menerima pernyataan itu, Fahri mengaku dirinya sudah tidak tertarik lagi untuk mencari tahu alasan Ratna berbohong. Dia menilai dirinya akan seperti acara infotainment jika masih terus mencari alasan Ratna berbohong lantaran hal itu sudah masuk ke ranah pribadi.

"Saya tidak tertarik mengetahuinya lebih jauh karena itu privat beliau. Saya tidak tertarik, karena beliau sudah mengaku. Dia mengaku berbohong sudah selesai. Biasa saja menurut saya, hanya dua hari minta maaf sudah selesai. Kalau beliau anak saya akan saya tanya detail," ucapnya.

Dalam kasus ini, Ratna didakwa dengan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana karena dianggap telah menyebarkan berita bohong untuk membuat keonaran.

Selain itu, Ratna juga didakwa dengan Pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45A ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena dinilai telah menyebarkan informasi untuk menimbulkan kebencian atas dasar Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

[Gambas:Video CNN] (gst/arh)