Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Calon Pendeta di OKI

CNN Indonesia | Rabu, 22/05/2019 05:57 WIB
Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Calon Pendeta di OKI Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Calon Pendeta di OKI, Selasa (21/5). (CNN Indonesia/Hafidz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumatra Selatan menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan terhadap seorang calon pendeta, Melindawati Zidemi (24), Selasa (21/2).

Pembunuhan yang terjadi pada 26 Maret lalu di kebun sawit Desa Sungai Baung, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan tersebut diperankan langsung oleh kedua tersangka, Nang (20) dan Hendri (18).

17 adegan diperagakan oleh kedua tersangka. Dari adegan awal terungkap, pembunuhan tersebut telah direncanakan oleh para tersangka sejak satu pekan sebelumnya. Nang dan Hendri merencanakan pembunuhan di mess karyawan, yang letaknya satu komplek dengan mess calon pendeta tempat tinggal korban.


"Kami incar, kami rencanakan untuk memperkosa korban. Saya memang suka sama korban, Hendri yang punya rencana memperkosa. Saya setuju saja," ujar tersangka Nang di sela rekonstruksi.


Tersangka menikam Melinda menggunakan kayu balok. Adapun Hendri berperan mengadang laju kendaraan sepeda motor Melinda yang saat itu baru saja pulang dari pasar bersama NRP (9). Keduanya menggunakan topeng saat beraksi agar identitasnya tidak diketahui. Keduanya bersembunyi di semak-semak sambil menunggu korban melintas.

Saat korban melintas di lokasi kejadian, tersangka Nang keluar dari persembunyian dan menghentikan motor sambil menodongkan pisau. Sementara tersangka Hendri membekap NRP, Nang menyeret korban Melinda ke dalam hutan.

Korban NRP terlebih dahulu dibekap dan dibuang ke dalam hutan. Para tersangka menyangka NRP sudah meninggal, kemudian segera melaksanakan rencana jahatnya kepada korban Melinda. Mereka tidak mengetahui bahwa NRP hanya pingsan saja.

Para tersangka mencabuli korban Melinda, Namun mereka batal memperkosa karena korban sedang mengalami menstruasi. Korban yang terus memberontak dicekik oleh tersangka Nang menggunakan karet ban hingga meninggal.


Para tersangka pun kemudian melarikan diri seraya mengambil ponsel korban. Dini hari 27 Maret, korban NRP sadarkan diri dan mencari pertolongan. Jenazah Melinda akhirnya ditemukan oleh warga pada pagi hari.

Usai rekonstruksi, kedua tersangka mengaku menyesali perbuatan. Mereka menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban dan pasrah terhadap proses hukum yang dijalaninya.

"Saya akan terima hukuman apapun yang diberikan kepada saya," ujar Nang.

Kanit 3 Subdit III/Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel Kompol Marjuned mengatakan, rekonstruksi dilakukan sebagai upaya melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke jaksa penuntut umum. Sebanyak 17 adegan dalam rekonstruksi diperagakan sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP) yang dilakukan terhadap kedua tersangka.

"Dari jalannya rekonstruksi, korban meninggal dunia karena cekikan dan bekapan yang dilakukan oleh tersangka. Kedua tersangka dijerat dengan pasal 365, 338 dan 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati," ujar dia.

(idz/ain)