"Senjata disimpan di gudang. Mereka menggunakan perisai dan pentungan, dan tentu dengan perlengkapan lain tapi bukan senjata api," ujar Wiranto dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (22/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Laporan dari Kapusdokkes Polri ada 6 orang meninggal dunia. Ada yang kena tembak dan kena benda tumpul. Sedang kami pelajari," ujar Tito.
Lebih dari itu, dia meminta masyarakat tidak terkecoh dengan opini bahwa pemerintah diktator dan sewenang-wenang.
"Jangan sampai kita terkecoh dengan hasutan itu," ujar Wiranto.
Dalam kesempatan yang sama mantan Panglima TNI itu juga menyatakan massa yang melakukan penyerangan dan pengerusakan kantor polisi serta asrama Brimob merupakan preman bayaran.
Hal itu berdasarkan hasil investigasi usai kepolisian melakukan penangkapan terhadap sejumlah pihak pasca kerusuhan.
"Yang menyerang itu adalah preman-preman yang dibayar, bertato," kata dia.
Lihat juga:FPI Bantah Terlibat Kerusuhan di Bawaslu |
"Dan aksi brutal lainnya yang tujuannya untuk menciptakan kekacauan sehingga menimbulkan korban. Nah korban ini dari beberapa tokoh dituduhkan kepada aparat keamanan seakan-akan aparat keamanan lah yang melakukan tindakan sewenang-wenang kepada masyarakat, rakyat," ujar Wiranto. (jps/wis)