Kesaksian yang Tersisa dari Kerusuhan 22 Mei

CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 07:31 WIB
Kesaksian yang Tersisa dari Kerusuhan 22 Mei Peserta aksi yang terkena tembakan gas air mata dibawa ke RSUD Tarakan, Jakarta, Rabu (22/5). (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anjas, kakak dari Abdul Aziz yang merupakan korban kerusuhan 22 Mei 2019, mengetahui kematian adiknya dari video yang beredar di media sosial.

Aziz diketahui pergi pada pagi hari ke Jakarta. Sebelum pergi, Anjas sempat menasihati adiknya agar selalu berhati-hati. Ia juga mengatakan jika terjadi sesuatu kepada Aziz segera memberitahu dirinya.

"Dia jalan pagi-pagi. Ya sudah, ziz, hati-hati, kata saya. Kalau ada apa-apa bilang saja. Kalau mau pulang atau gimana saya bilang kan. Ya sudah dia jalan," kata Anjas dikutip dari CNNIndonesia TV, Rabu (22/5).


Setelah itu, Anjas mengatakan bahwa adiknya sudah tidak ada kabar lagi. Ia juga mengatakan tidak mengetahui kronologi bagaimana adiknya bisa tewas.

"Tidak ada yang tahu," tuturnya.

warga mengamati daftar nama korban luka kericuhan di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5).Warga mengamati daftar nama korban luka kericuhan di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Terpisah, petugas ambulans Dheri mengaku membawa dua korban terkait aksi 22 Mei di depan kantor Bawaslu, Jakarta. Kedua pasien itu, kata dia, terserang sesak napas akibat gas air mata.

"Iya ini dibawa dari Bawaslu karena kena gas air mata tadi," ujar Dheri di RSUD Tarakan.

Hingga saat ini, kata dia, kedua korban yang belum diketahui identitasnya itu sedang menjalani pemeriksaan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dari pantauan CNNIndonesia.com, keduanya tampak terbaring lemas sambil memejamkan mata. Di bawah mata keduanya terlihat pasta gigi untuk menahan pedih karena gas air mata.

Dheri mengatakan masih ada salah satu massa aksi lagi yang dibawa menggunakan ambulans.

Direktur Pelayanan Medis Rumah Sakit Budi Kemuliaan Muhammad Rifki mengatakan mayoritas korban di rumah sakitnya terkena gas air mata.

"Korban semuanya merupakan peserta aksi demo, sebagian besar pulang, tidak ada korban dari aparat keamanan," katanya.

Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa rusuh di depan Gedung Bawaslu, kemarin.Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa rusuh di depan Gedung Bawaslu, kemarin. (CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)
Satu korban itu, lanjut dia, mengalami luka di mata akibat benda tumpul dan telah dirujuk ke Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Pusat.

"Satu korban akibat benda tumpul yang mengenai mata kanan peserta demo dirujuk ke RS Tarakan," kata Muhammad Rifki.

Kepala Bagian Umum dan Pemasaran Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan Reggy S Sobari mengatakan para korban aksi 22 Mei di sekitar Tanah Abang, Jalan Thamrin, dan Petamburan, mengalami luka akibat peluru karet.

"Ada beberapa yang kami bantu mengeluarkan peluru karet itu dari tubuhnya," kata Reggy saat ditemui di RSUD Tarakan, Jakarta, Rabu (22/5) seperti dikutip dari Antara.

Ketika ditanya soal penyebab dua korban meninggal di RSUD Tarakan, Reggy tidak bisa memastikan karena keluarga menolak untuk dilakukan autopsi.

"Korban meninggal mengalami luka berupa lubang berbentuk bulat. Apakah luka itu yang menyebabkan meninggal, kami tidak bisa memastikan," tuturnya.

Kapolri Tito Karnavian menyebut kematian enam orang terkait aksi 22 Mei masih harus didalami karena pihaknya tak memakai peluru tajam dalam pengamanan demo dan menemukan senjata api dan peluru selundupan.Kapolri Tito Karnavian menyebut kematian enam orang terkait aksi 22 Mei masih harus didalami karena pihaknya tak memakai peluru tajam dalam pengamanan demo dan menemukan senjata api dan peluru selundupan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut ada sekitar 200-an korban luka akibat aksi 22 Mei. Para korban yang ditangani di DKI banyak terkena luka benda tumpul hingga peluru karet.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut ada enam orang tewas. Hal itu dibenarkan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian meski ia menyebut mesti ada penyelidikan lebih jauh soal penyebab kematiannya,

(sas/arh)