"Kami tidak punya kaitan langsung terkait aksi-aksi jamaah dalam kegiatan 21 Mei," ujar Sekertaris Dewan Pengurus Masjid Sunda Kelapa, Ismed Hasan Putro saat mengklarifikasi peran masjid yang diurusnya di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Jumat (24/5).
Sebelumnya, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono sempat mengatakan tersangka pelaku kerusuhan datang ke Sunda Kelapa untuk bertemu beberapa orang. Mereka kemudian merencanakan menyerang asrama polisi di Petamburan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ismed meyakini pengurus dan jemaah yang mendatangi Masjid Sunda Kelapa tidak mungkin melakukan kerusuhan meski mereka ikut berpartisipasi dalam aksi, apalagi merencanakan kerusuhan seperti dikatakan Argo.
"Intinya bahwa jemaah kami yang berangkat dari sini ikut aksi, pulang ke sini utuh. Ada yang meninggal itu kan karena sakit, jadi saya katakan bahwa kalau umat yang sering datang ke sini rasanya bukan pelaku kerusuhan," terang dia.
Diakui Ismed bahwa pada 20 Mei malam hari ada banyak jemaah yang datang ke Masjid Sunda Kelapa, termasuk massa yang membeludak dari daerah. Namun mereka datang dengan tujuan beribadah.
Ismed melanjutkan dengan kapasitas sekitar 5 ribu orang dan gerbang masjid yang cukup banyak, pengurus sulit dan tidak mungkin mendeteksi motif dari setiap orang yang datang.
"Rasanya sulit bagi siapapun untuk tau apa motif dari masing-masing jemaah ada di sini. Karena masifnya kehadiran jemaah. Malam itu itikaf konsen untuk ibadah. Bahwa ada teman-teman dari daerah yang memanfaatkan itu untuk transit itu di luar kewenangan kami," jelas Ismed.
Ismed mengatakan pihaknya meminta penjelasan yang lebih komprehensif terkait penyebutan Sunda Kelapa dari kepolisian.Terlebih, kata dia, masjid sangat terbuka untuk berbagai kegiatan di luar ibadah seperti diskusi, rapat dan simposium.
"Apalagi dikatakan ada ditemukan rekaman indikasikan rapat. Karena penting dari pengurus masjid untuk dapat penjelasan komprehensif," tambahnya.
Ismed mengaku sudah sejak 2004 menjadi pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa. Selama itu pula dia menyebut tak pernah menemukan masalah yang berhubungan dengan keamanan negara. Dia mengungkapkan pengurus masjid ditunjuk oleh Pemda DKI sehingga tidak bisa sembarangan orang mengelola Masjid Sunda Kelapa.
Ismed berkata tugas pengurus masjid melayani masyarakat yang memanfaatkan fasilitas masjid. Menurutnya hal ini juga terjadi sejak aksi 212 dan 411 saat massa memilih Masjid Sunda Kelapa sebagai tempat untuk tinggal sementara.
Sementara terkait dengan keamanan, ia mengatakan pihaknya selalu siap selama 24 jam.
"Kewaspadaan keamanan selalu kami tekankan di sini karena 24 jam dijaga marinir. Kita minta ikut pengamanan masjid karena sangat sensitif, 50 meter dari kediaman wapres," tegasnya.
(ani/wis)