KPK Dalami Pengetahuan Sofyan Basir soal Suap untuk Eni

CNN Indonesia | Jumat, 31/05/2019 18:33 WIB
KPK Dalami Pengetahuan Sofyan Basir soal Suap untuk Eni Direktur Utama nonaktif PT PLN Sofyan Basir kembali diperiksa KPK terkait suap kepada anggota DPR. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Direktur Utama PT PLN (Persero) nonaktif Sofyan Basir terkait kasus suap kesepakatan kerja sama pembangunan PLTU Riau-1 yang melibatkan anggota DPR.

Dalam pemeriksaan kali ini, komisi antirasuah itu mendalami peran Sofyan dalam proyek pembangkit tenaga setrum di Riau itu. KPK juga mengklarifikasi pengetahuan Sofyan terkait dengan fee yang diterima oleh mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI.

"Hari ini, 31 Mei 2019 dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka SFB sebagai pemeriksaan lanjutan untuk mendalami peran-peran tersangka dalam proyek PLTU Riau-1," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah dalam keterangan tertulis, Jumat (31/5).


"Hingga mengklarifikasi pengetahuan tersangka terkait dengan fee yang telah diterima Eni M Saragih dan kawan-kawan," ucap Febri.

Dalam perkara yang melibatkan Sofyan tersebut KPK telah memeriksa 78 orang saksi dari berbagai unsur.

Dalam kasus ini, selain telah menetapkan Sofyan sebagai tersangka, KPK pun sudah menahannya pada Senin (27/5) seusai menjalani pemeriksaan sekitar 4 jam.

Sofyan diduga membantu bekas anggota Komisi VII DPR dari fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih dan pemilik saham Blackgold Natural Resources (BNR) Ltd Johannes Budisutrisno Kotjo mendapatkan kontrak kerja sama proyek senilai 900 juta dolar AS atau setara Rp12,8 triliun.

Sofyan hadir dalam pertemuan-pertemuan yang dihadiri Eni Maulani Saragih, Johannes Kotjo dan pihak lainnya untuk memasukkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang RIAU-1 (PLTU MT RIAU-1) PT PLN.

Pada 2016, meskipun belum terbit Peraturan Presiden Nomor 4 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan yang menugaskan PT PLN menyelenggarakan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan (PIK), Sofyan diduga telah menunjuk Johannes Kotjo untuk mengerjakan proyek PLTU Riau-1, karena untuk PLTU di Jawa sudah penuh dan sudah ada kandidat.

Sehingga PLTU Riau-1 dengan kapasitas 2x300 MW masuk dalam RUPTL PLN. Setelah itu, diduga Sofyan Basir menyuruh salah satu Direktur PT PLN agar "Power Purchase Agreement" (PPA) antara PLN dengan Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Co (CHEC) segera direalisasikan.

[Gambas:Video CNN] (SAH/arh)