Menurut JK, peristiwa bom bunuh diri itu dilatarbelakangi oleh pandangan atau ideologi dan alasan khusus. Berkat ideologi itu, maka muncul ide-ide melakukan sebuah tindakan, termasuk yang berbentuk bom bunuh diri.
"Itu semua ideologis yang menjadi tindakan. Orang boleh berideologi keras, tapi tindakan tidak dalam bentuk seperti itu," JK itu dalam keterangan resminya, Selasa (4/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, JK meyakini peristiwa bom bunuh diri di Kartasura tak akan menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Sebab, ia memandang masyarakat sudah cukup dewasa untuk menyikapi peristiwa-peristiwa seperti itu.
Pospol Kartasura yang jadi lokasi peledakan bom. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho) |
Semalam, terjadi ledakan bom bunuh diri di sekitar pos penjagaan polisi di dekat Tugu Kartasura sekitar pukul 22.30 WIB. Namun, pelaku tidak meninggal.
Berdasarkan keterangan saksi, Rakian Rangga Putra Perdana (25), pelaku tampak menggunakan kaos hitam, celana jeans, dan tampak menggunakan headset. Saksi dan anggota polisi yang berada di Pos pantau pospam tugu Kartasura berhasil menyelamatkan diri.
Polisi yang berada di lokasi kemudian mensterilkan tempat kejadian perkara (TKP). Sementara korban yang juga diduga pelaku di bawa ke Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah, tetapi kemudian dipindah ke RS Ortopedi, Surakarta.
Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahnie lalu mendatangi lokasi kejadian bom bunuh diri Kartasura sekitar pukul 00.26 WIB.
Sekitar pukul 01.00 WIB, Pasukan Densus 88 Antiteror Mabes Polri kemudian melakukan penggeledahan di rumah pelaku bom bunuh diri. Pelaku diduga Rafik Asarrudin (22), warga Kampung Kranggan, Desa Wirogunan, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.
[Gambas:Video CNN] (uli/end)
Pospol Kartasura yang jadi lokasi peledakan bom. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)