GARIS Bekasi: Sopir Ambulans Hanya Antar Logistik saat 22 Mei

CNN Indonesia | Rabu, 12/06/2019 00:45 WIB
GARIS Bekasi: Sopir Ambulans Hanya Antar Logistik saat 22 Mei Ilustrasi ambulans. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Gerakan Rijajul Islam (GARIS) Bekasi Maulana Alhamdani menjelaskan peran sopir ambulans milik ormasnya yakni Amrin kepada penyidik Polres Metro Jakarta Barat hari ini (11/6). Maulana mengatakan dirinya memang memerintahkan Amrin untuk mengantar logistik ke sejumlah masjid yang disinggahi oleh massa kerusuhan 22 Mei.

"Pemeriksaan ini hanya untuk menanyakan apakah benar Amrin itu diperintahkan Ustad Maulana, Ustad maulana mengatakan bahwa waktu puasa itu ya memang meminta Amrin mengantarkan logistik untuk sahur dan buka puasa ke tempat yang telah dipilihkan, seperti Masjid Sunda Kelapa," hal itu disampaikan Dedi Suhardadi selaku pengacara Ketua GARIS di Polres Metro Jakarta Barat, Selasa (11/6) malam.

Lebih lanjut, usai mengantarkan logistik untuk berbuka puasa dan sahur, seharusnya Amrin kembali ke Bekasi. Namun ia malah ikut membantu para korban yang berjatuhan saat Aksi 22 Mei berlangsung tanpa berkoordinasi dengan Maulana.


Diketahui, Amrin mengendarai ambulans sampai ke daerah Tanah Abang dan Petamburan untuk ikut mengangkut korban.


"Nah Ustad maulana mengatakan bahwa ini beliau [Amrin] hanya sebatas mengantarkan logistik, tidak untuk yang lain. Jadi mestinya Amrin kembali ke Bekasi. Cuma tidak tahu bagaimana karena ada permintaan mengangkut korban-korban itu ya inisiatif dia nurani sebagai kemanusiaan dia berangkat tanpa koordinasi dengan Ustad Maulana," jelas Dedi.

Ketua GARIS menegaskan kepada penyidik bahwa tidak ada benda-benda berbahaya seperti batu-batuan maupun panah di dalam mobil ambulans itu.

"Sebetulnya tidak ada di dalam ambulans macam-macam [benda berbahaya] itu, adanya orang-orang yang kondisinya mau dibantu," pungkas Dedi.

Pemeriksaan ormas GARIS Bekasi oleh penyidik Polres Metro Jakarta Barat berlangsung selama 4 jam, dimulai pukul 14.00 WIB sampai 18.13 WIB. Dedi mengatakan kliennya dicecar setidaknya 20 pertanyaan oleh penyidik.


Diberitakan sebelumnya, pihak kepolisian menemukan busur dan bambu runcing di ambulans berlogo GARIS yang diamankan saat kerusuhan Aksi 22 Mei. Mobil berwarna hijau itu ditemukan di belakang Gedung Bawaslu, Jakarta.

Tak Ada Hubungan dengan GARIS Cianjur

Ketua GARIS Bekasi Maulana Alhamdani menegaskan ormasnya tidak ada hubungan dengan GARIS Cianjur. Pernyataan itu disampaikan ketika penyidik Polres Metro Jakarta Barat menanyakan kaitan antara organisasi dengan GARIS Cianjur.

"Di situ ditanya oleh penyidik, apakah ada hubungannya dengan GARIS Cianjur, dengan tegas kita mengatakan tidak ada. Lalu Ustad Maulana menerangkan sebenarnya GARIS Bekasi itu dibentuk tahun 2015 tapi cikal bakalnya 2004," jelas Dedi kepada CNNIndonesia.com di Polres Metro Jakarta Barat, Selasa (11/6) malam.

Berdasarkan penjelasan Dedi, Maulana menjelaskan bahwa latar belakang GARIS Bekasi ialah gerakan pemuda Islam terkait masalah dakwah dan kemasyarakatan.

Sebelumnya, pihak kepolisian sempat menyebut ambulans yang diamankan disebut-sebut milik kelompok ormas Gerakan Reformis Islam (GARIS) Cianjur.


Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal menyebut mereka yang tertangkap merupakan bagian kelompok Gerakan Reformis Islam (GARIS) yang pernah menyatakan sebagai pendukung ISIS.

Ketua GARIS Cianjur Chep Hernawan membantah semua informasi polisi yang menyebut pihaknya terlibat dalam kasus ambulans berisi busur dan batu.

Chep memang pernah diidentikkan dengan ISIS karena kiprahnya dalam beberapa waktu lalu. Chep pernah mengaku sebagai Presiden Regional ISIS Indonesia, ditangkap pada 2014 di Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. Ia ditangkap bersama 6 orang lainnya.

Chep kemudian menyebut ormas lain yang memiliki nama sama, 'Gerakan Rijalul Islam' yang juga dikenal dengan GARIS. Chep menyebut dia mendapat kabar bahwa ada 'GARIS' lain yang terlibat dalam aksi yang berujung ricuh tersebut.

(din/lav)