Polisi Tangkap Pemuda asal Depok Pengancam Jokowi

CNN Indonesia | Rabu, 12/06/2019 14:59 WIB
Polisi Tangkap Pemuda asal Depok Pengancam Jokowi Ilustrasi (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri berhasil menangkap seorang pemuda asal Depok berinisial YY berusia 31 tahun yang diduga melakukan tindakan mengancam Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia juga mengancam akan meledakkan Markas Komando (Mako) Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan ucapan YY tersebut dilontarkannya dalam sebuah aplikasi grup pesan singkat pendukung salah satu pasangan calon presiden dalam Pemilu 2019.

"Tersangka diduga melakukan tindak pidana pengancaman terhadap Presiden Jokowi dan pengancaman meledakkan Asrama Brimob Polri Kelapa Dua," kata Dedi saat dikonfirmasi, Rabu (12/6).


Dedi lantas merinci bahwa YY ditangkap pada Selasa 11 Juni 2019, pukul 11.45 WIB saat berada di kediaman pribadinya di kawasan Tapos Depok, Jawa Barat.

Ia menyatakan pihak kepolisian menangkap YY setelah mendapatkan informasi adanya percakapan yang bernada ancaman dalam sebuah grup WhatsApp bernama "silaturahmi" di mana YY menjadi salah satu administratornya.

Dalam percakapan tersebut, Dedi mengatakan bahwa YY mengirimkan sebuah pesan yang berisi 'Tanggal 29 Jokowi Harus Mati'. Selain itu, YY turut menuliskan pesan 'Tunggu diberitakan ada ledakan dalam waktu dekat ini di asrama Brimob Kelapa Dua sebelum tanggal 29'.

"Grup WhatsApp 'silaturrahmi' merupakan komunitas pendukung salah satu pasangan calon presiden dalam pemilu 2019 yang berisikan 192 orang dan tersangka YY merupakan salah satu admin group tersebut," kata Dedi.

Dedi menyatakan motif YY menuliskan pesan ancaman itu sekadar mencari nama dan pamor sebagai pendukung militan salah satu calon presiden yang berlaga di Pilpres 2019. Namun, Dedi enggan untuk menyebut capres mana yang didukung oleh tersangka YY tersebut.

"Ingin mencari nama, pamor, dan ingin dikenal sebagai pendukung militan dari salah satu paslon capres 2019," kata Dedi.

Tak hanya itu, Dedi turut mengatakan bahwa tersangka YY pernah menjadi relawan salah satu paslon capres dalam kegiatan demonstrasi di depan kantor Bawaslu, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Atas perbuatan tersebut, Dedi menjelaskan tersangka YY dijerat dengan Pasal 29 jo Pasal 45 B UU No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000.

Tak hanya itu, tersangka YY dapat dikenakan pasal 6 atau pasal 12 A atau Pasal 14 UU No 5 tahun 2018 tentang Perubahan atas uu No 15 tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan TP Terorisme menjadi UU dengan ancaman hukuman paling singkat 5 tahun penjara. (rzr/eks)