Presidium GMPPD sendiri terdiri atas Max Sopacua, Ahmad Mubarok dan Ahmad Yahya. Mereka adalah kader senior yang telah malang melintang berkecimpung di partai berlambang mercy tersebut.
"Kami menetapkan momentum puncak GMPPD dengan menyiapkan, mendorong, dan melaksanakan suksesnya Kongres Luar Biasa selambatnya pada 9 September 2019," ucap para kader senior di bilangan Cikini, Jakarta, Kamis (14/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Permasalahan pertama yang diungkap Max yakni tentang sejumlah kader partai yang kerap melontarkan pernyataan provokatif. Mereka adalah Wasekjen Andi Arief, Rachlan Nashidik dan Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Ferdinand Huatahaean. Sikap mereka dinilai tidak sesuai dengan asas Partai Demokrat yang mengedepankan politik santun.
"Termasuk mendukung dan bekerjasama dengan kepimpinan nasional Presiden RI-Wakil Presiden RI yang disahkan konstitusi untuk kepentingan dan masa depan bangsa dan negara," tutur Max.
Dalam hal ini, Max tidak menyatakan Demokrat bakal bergabung dengan koalisi Jokowi-Ma'ruf. Menurut dia, itu terlalu dini untuk dibicarakan karena masih ada proses hukum yang berjalan di Mahkamah Konstitusi.
"Tidak ada kaitannya. Itu ada fitnah-fitnah begitu," kata Max.
Di tempat yang sama, kader senior Ahmad Mubarok mengatakan pihaknya membentuk GMPPD bukan semata-mata ingin ada Kongres Luar Biasa. Dia menjelaskan bahwa GMPPD dibentuk untuk mendorong para kader agar peka terhadap situasi terkini.
"Ibaratnya, GMPPD ini api. Ada asapnya. Nah, nanti kan para kader melihat asapnya. Kita lihat respon para kader bagaimana," kata Mubarok. (bmw/eks)