Kader Senior Demokrat Dorong Kongres Luar Biasa September

CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 17:49 WIB
Kader Senior Demokrat Dorong Kongres Luar Biasa September Politikus senior Partai Demokrat (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah kader senior membentuk Gerakan Moral Penyelamatan Partai Demokrat (GMPPD) dan mendorong pelaksanaan Kongres Luar Biasa paling lambat pada September mendatang. Mereka mendorong KLB karena menganggap ada sejumlah masalah di internal partai.

Presidium GMPPD sendiri terdiri atas Max Sopacua, Ahmad Mubarok dan Ahmad Yahya. Mereka adalah kader senior yang telah malang melintang berkecimpung di partai berlambang mercy tersebut.

"Kami menetapkan momentum puncak GMPPD dengan menyiapkan, mendorong, dan melaksanakan suksesnya Kongres Luar Biasa selambatnya pada 9 September 2019," ucap para kader senior di bilangan Cikini, Jakarta, Kamis (14/6).


Max Sopacua mengatakan bahwa Demokrat mengalami sejumlah permasalahan. Masalah-masalah itu mengakibatkan suara Demokrat jeblok di Pemilu 2019 yang hanya memperoleh 7,7 persen suara.

Permasalahan pertama yang diungkap Max yakni tentang sejumlah kader partai yang kerap melontarkan pernyataan provokatif. Mereka adalah Wasekjen Andi Arief, Rachlan Nashidik dan Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Ferdinand Huatahaean. Sikap mereka dinilai tidak sesuai dengan asas Partai Demokrat yang mengedepankan politik santun.

Permasalahan lain yang diungkap Max yaitu tentang hasil Pemilu 2019. Menurut dia, perlu ada introspeksi dan evaluasi menyeluruh agar lebih baik di Pemilu 2024.

Max lalu menyatakan bahwa Partai Demokrat akan tetap berada dalam koalisi pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Seiring dengan itu, kader Demokrat dapat menjalin silaturahmi dan rekonsiliasi dengan pihak manapun.

"Termasuk mendukung dan bekerjasama dengan kepimpinan nasional Presiden RI-Wakil Presiden RI yang disahkan konstitusi untuk kepentingan dan masa depan bangsa dan negara," tutur Max.

Dalam hal ini, Max tidak menyatakan Demokrat bakal bergabung dengan koalisi Jokowi-Ma'ruf. Menurut dia, itu terlalu dini untuk dibicarakan karena masih ada proses hukum yang berjalan di Mahkamah Konstitusi.

Max lalu menegaskan bahwa sikap pihaknya tidak memiliki kaitan dengan mantan ketua umum Anas Urbaningrum. Dia menekankan tidak pernah bertemu dengan Anas meski dulu memang memiliki kedekatan.

"Tidak ada kaitannya. Itu ada fitnah-fitnah begitu," kata Max.

Di tempat yang sama, kader senior Ahmad Mubarok mengatakan pihaknya membentuk GMPPD bukan semata-mata ingin ada Kongres Luar Biasa. Dia menjelaskan bahwa GMPPD dibentuk untuk mendorong para kader agar peka terhadap situasi terkini.

"Ibaratnya, GMPPD ini api. Ada asapnya. Nah, nanti kan para kader melihat asapnya. Kita lihat respon para kader bagaimana," kata Mubarok. (bmw/eks)