"Memang justru saya setuju, prinsipnya setuju [hilangkan label sekolah favorit]," kata Hetifah di Kompleks MPR/DPR, Jakarta, Rabu (26/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan anak-anak yang pintar aja yang dapat hak untuk belajar di sekolah bagus. Justru anak-anak yang mungkin bodoh, dianggap daya tangkapnya kurang, anak yang dianggap nakal, anak dari keluarga miskin, mereka justru SDM kita," ujar Hetifah.
Tak hanya itu, ia pun mengimbau kepada seluruh orang tua murid untuk mengubah pola pikirnya terkait label sekolah favorit. Ia mengatakan para murid yang berkualitas pun bisa dipastikan akan berprestasi meskipun berada di sekolah yang memiliki label 'non favorit'.
"Karena kita sekolah dimanapun, kalau anaknya berkualitas sebenarnya dia bisa mengangkat pendidikan di sekolah itu. Karena anak-anak itu yang justru bisa memberikan culture baru," kata dia
Muhadjir sebelumnya menyatakan penerapan PPDB melalui sistem zonasi bertujuan, salah satunya untuk menghapus label sekolah favorit.
"Saya mohon masyarakat mulai menyadari. Tidak seperti dulu, karena sudah tidak ada lagi sekolah [favorit]," kata Muhadjir (rzr/wis)