Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Andono Warih menjelaskan bahwa standar yang digunakan oleh Airvisual adalah standar Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Amerika Serikat, lanjut Andono, parameter yang dominan digunakan adalah PM 2,5 atau partikel debu yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron. Sehingga, kata dia, angka pencemaran udara bisa lebih tinggi.
Dijelaskan Andono, pada hari Selasa, 25 Juni 2019, ISPU DKI Jakarta dalam kategori Sedang di seluruh Ibu Kota.
"Lokasi pemantauan SPKU milik DKI hasil pengukurannya tidak setinggi data AirVisual, sehingga tidak dapat dikatakan seluruh wilayah Jakarta kualitas udaranya buruk sepanjang waktu," kata Andono.
"Debu akibat berbagai proyek pembangunan tersebut turut menurunkan kualitas udara di Jakarta, hal ini cukup wajar sebagai kota metropolitan yang sedang giat membangun," tutur dia.
Untuk hari ini per tanggal 27 Juni pukul 12.35 WIB, Jakarta berada di urutan kedua setelah Delhi, India dengan kota udara buruk.
Air Quality Index (AQI) and Poluiton yang dirilis airvisual.com memberi Jakarta poin 163 dengan status unhealthy atau tidak menyehatkan.
[Gambas:Video CNN] (ctr/arh)