Musim Kemarau, Warga Kamal Muara Menjerit Biaya Air Bersih

Antara, CNN Indonesia | Senin, 08/07/2019 18:57 WIB
Musim Kemarau, Warga Kamal Muara Menjerit Biaya Air Bersih Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagian warga di Kampung Nelayan, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, terpaksa mengeluarkan kocek lebih dalam lagi untuk mendapatkan air bersih layak minum selama musim kemarau.

Dalam satu bulan terakhir sejumlah warga mengeluarkan uang hingga Rp500 ribu per bulan untuk membeli air bersih.

"Saat musim hujan pengeluaran untuk air bersih tidak lebih dari Rp100 ribu per bulan, sebulan terakhir ini kami bisa mengeluarkan Rp500 ribu per bulan untuk membeli air bersih," kata seorang warga Kamal Muara, Rahmi Ile di Jakarta, Senin (8/7).


Sejumlah rukun warga di Muara Kamal memang mengalami keterbatasan mendapat air bersih. Itu karena wilayah mereka berdekatan dengan pantai sehingga air tanah yang dihasilkan dari tanah berupa air payau.

Selama musim hujan, kata Rahmi, warga setempat memanfaatkan air hujan yang mereka tampung untuk keperluan mandi dan cuci pakaian serta piring.

"Sementara, air bersih yang dibeli dari operator penyediaan dan pelayanan air bersih di DKI Jakarta, PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), digunakan untuk keperluan air minum dan memasak," kata dia.

Palyja lewat surat tanggapan kepada CNNIndonesia.com menyatakan bahwa saat ini memang belum terpasang jaringan pipa ke RW 04 Kampung Nelayan Kamal Muara. Namun untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Palyja menyediakan Kios Air yang disuplai melalui mobil tangki, yaitu di RT.09-RW 04, RT 10-RW 01, dan RT 03-RW 04. 

Ilustrasi Kampung Nelayan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Pada musim kemarau ini, lanjut Rahmi, warga terpaksa memenuhi kebutuhan mencuci dan mandinya dari membeli air yang dijual oleh pedagang air perorangan.

"Harganya Rp7 ribu per empat jeriken," kata Rahmi.

Senada dengan Rahmi, seorang warga lainnya, Sahril mengatakan warga terpaksa membeli air bersih dari pedagang karena air hasil pompa bor berkualitas sangat buruk.

"Rasanya asin, kalau digunakan untuk mencuci pakaian pasti menimbulkan noda kuning. Sementara untuk mencuci alat dapur logam akan menimbulkan karat," kata dia

Sahril berharap pemerintah dapat membantu warga setempat dalam menyediakan air bersih yang lebih murah melalui penyediaan jaringan pipa ke kampung mereka.

"Harga air dari pedagang setiap musim kemarau selalu naik, 2016 lalu per empat jeriken harganya Rp4 ribu, sekarang sudah mencapai Rp7 ribu," kata Sahril.

Sementara itu, Ketua Rukun Warga (RW) 04 yang menaungi sekitar 2 ribu warga di Kampung Nelayan Kamal Muara, Sudirman mengatakan warga setempat memiliki ketergantungan tinggi terhadap air hujan. 

Warga menampung air hujan di tong dan jeriken setiap hujan turun. Hampir seluruh rumah di kampung nelayan ini, kata dia, memasang pipa dari talang di tepi atap rumah untuk mengalirkan air hujan ke tong-tong yang diletakkan di depan rumah mereka.

"Saat kemarau seperti sekarang ini alat itu tidak terpakai," kata dia.

Sudirman mengatakan pemerintah setempat saat ini sedang mengupayakan pembangunan jaringan air bersih ke Kampung Nelayan Kamal Muara.

"Saat ini sedang proses realiasi, targetnya rencana ini terealisasi sekitar September-Oktober 2019 di dua RW, 01 dan 04," kata dia.

Sudirman berharap penyediaan jaringan air bersih ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan warga dalam mendapatkan air bersih yang lebih murah.


---

Catatan redaksi: Berita ini diperbarui pada Senin (15/7) untuk menambahkan tanggapan dari PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) (wis/wis)