Tim Gabungan Duga Ada Motif Politik di Balik Kasus Novel

CNN Indonesia | Selasa, 09/07/2019 21:38 WIB
Salah satu anggota tim gabungan menyatakan kasus Novel Baswedan adalah high profile, sehingga bisa diduga teror air keras atasnya diduga motif politik. Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta kasus Novel Baswedan, Hendardi. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Gabungan Pencari Fakta kasus penyiraman air keras kepada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menduga terdapat motif politik dalam kasus yang hingga kini belum terungkap. Dugaan motif politik itu berkaitan dengan kedudukan Novel sebagai bagian dari lembaga antirasuah.

Salah satu anggota tim gabungan, Hendardi, mengatakan kasus Novel bukanlah kasus biasa. Kasus itu juga berbeda dengan kasus pembunuhan yang bisa saja terjadi di pinggir jalan.

"Tentu saja ini bukan perkara biasa, jadi pasti bukan perkara pembunuhan biasa di pinggir jalan atau apa tapi ini perkara yang melibatkan, saya kira orang yang juga bisa kita kategorikan sebagai ada latar belakang politik," ujar Hendardi saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (9/7).


Selain itu, pria yang juga ketua Setara Institute juga menyebut kasus tersebut masuk kategori high profile. Atas dasar itulah, muncul dugaan ada motif politik di belakang peristiwa tersebut.

"Karena itu kami berkepentingan untuk mencari juga motif-motif di balik itu semua dan motif itu kami telusuri. Dari motif-motif apa saja yang mungkin yang kami temukan dalam hal ini itu nanti pada pekan depan akan kami sampaikan," kata Hendardi.


Petang tadi, tim gabungan menyerahkan hasil laporan mereka kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Meski laporan itu telah diserahkan, baik tim dan Polri tak menggamblangkan lugas apa yang berada di dalamnya.

"Ada temuan progres dari tim pakar, temuan yang menarik, nanti insyaallah akan kami sampaikan juga pada sesi konferensi pers paling lambat minggu depan," ujar Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal.

Iqbal pun menjamin temuan dari tim tersebut akan dipelajari lebih lanjut.

Tim gabungan ini dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian lewat Surat Keputusan nomor: Sgas/ 3/I/HUK.6.6/2019. Tim yang beranggotakan 65 orang memiliki masa tugas selama enam bulan dan sudah habis pada 7 Juli 2019.

Wajah Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal di lingkungan rumahnya usai melaksanakan salat subuh, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April 2017. Dan, kasusnya hingga kini masih buram--bahkan tersangka pun belum ada.


[Gambas:Video CNN] (gst/kid)