Novel Minta Tim Gabungan Fokus ke Aktor Lapangan

CNN Indonesia | Rabu, 10/07/2019 14:33 WIB
Novel Minta Tim Gabungan Fokus ke Aktor Lapangan Penyidik KPK Novel Baswedan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan meminta tim gabungan bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk tidak berspekulasi terkait dalang kasus penyiraman air keras terhadap dirinya.

Dia meminta tim untuk memprioritaskan pengungkapan aktor lapangannya terlebih dahulu.

Sebelumnya dalam konferensi pers, Selasa (9/7), tim gabungan menduga terdapat motif politik dalam kasus yang hingga kini belum terungkap itu. Hal ini berkaitan dengan kedudukan Novel sebagai bagian dari lembaga antirasuah.


"Saya pikir jangan sampai hanya terjadi upaya untuk berspekulasi, siapa aktor intelektual, dalang, koordinator dan lain-lain," kata Novel di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (10/7).

Menurut Novel pengungkapan kasus ini harus dimulai dengan menangkap eksekutor atau pelaku di lapangan. Pasalnya, penganiayaan yang dialami Novel ini masuk dalam kategori kejahatan jalanan.

"Spekulasi aktor intelektual pihak mana-pihak mana, saya kira itu bukan bukan investigasi ya, itu hanya rekaan atau dugaan-dugaan saja dan saya kira itu tidaklah tepat," ujarnya.

Ia berharap kasus ini tidak diperkeruh dengan spekulasi itu. Novel meminta agar tim ini melakukan upaya pembuktian yang sungguh-sungguh.

"Karena kalau hanya spekulasi dan pelakunya sekali lagi tidak dapat maka itu sia-sia," ujarnya.

Lebih lanjut, Novel mengatakan pengumuman hasil kerja tim gabungan pada pekan depan menjadi pertaruhan bagi orang-orang yang ada di dalam tim itu. Ia juga berharap teror terhadap pegawai KPK lainnya juga segera diungkap agar kejadian itu tidak terulang.

"Tentunya minggu depan rilis hasilnya itu seperti apa tentunya ini pertaruhan buat beliau-beliau. Saya berharap hasil yang ditemukan benar-benar signifikan," ucapnya.

Tim gabungan ini dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian lewat Surat Keputusan nomor: Sgas/ 3/I/HUK.6.6/2019. Tim yang beranggotakan 65 orang memiliki masa tugas selama enam bulan dan sudah habis pada 7 Juli 2019.

Wajah Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal di lingkungan rumahnya usai melaksanakan salat subuh, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April 2017. Hingga kini, kasusnya belum terungkap.

(SAH/arh)