Atasi Polusi, Pemprov DKI Diminta Tak Cuma Tanam Lidah Mertua

CNN Indonesia | Selasa, 30/07/2019 17:42 WIB
Atasi Polusi, Pemprov DKI Diminta Tak Cuma Tanam Lidah Mertua Warga berjalan di trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (9/9/2016). Asap kendaraan bermotor menjadi penyumbang polusi udara terbesar di Jakarta. (CNN Indonesia/Djonet Sugiarto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak hanya menanam tumbuhan lidah mertua (sansevieria trifasciata) untuk membersihkan polusi udara yang semakin pekat.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT Tri Handoko Seto menyatakan Pemprov DKI Jakarta sebaiknya juga menanam tumbuhan yang lebih besar agar mampu menyerap zat polutan. Penanaman pohon ini menjadi faktor pembersih polusi udara di Ibu Kota.

"Bukan sekadar tumbuhan lidah buaya, lidah mertua, lidah keponakan, dan seterusnya, tapi tumbuh-tumbuhan yang punya kemampuan tinggi untuk menyerap karbon," kata Seto di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Selasa (30/7).


Seto mengatakan pohon-pohon besar tersebut juga bisa ditanam di seluruh gedung di Jakarta, termasuk di puncak gedungnya. Selain itu, kata Seto, di setiap gedung harus punya sirkulasi yang baik, misalnya seperti air mancur.


"Dia juga bisa dijadikan faktor pembersih karena air itu bersirkulasi maka dia akan menyentuh udara, dia akan menangkap polutan untuk pembersih," ujarnya.

Seto menyatakan modifikasi cuaca atau hujan buatan bisa dilakukan untuk mengatasi polusi udara.

Namun, menurutnya, Pemprov DKI belum memutuskan untuk melakukan hujan buatan dalam mengatasi polusi udara. Padahal, kata Seto, BPPT siap membantu wilayah yang dipimpin Anies Baswedan itu dalam menciptakan hujan buatan.

"Enggak tahu saya, tanya Pemprov, entar saya salah ngomong, entar dibilang offside. Kita mah siap-siap saja kalau diminta, kan," tuturnya.

Atasi Polusi Udara, BPPT Minta Pemprov Jakarta Tak Hanya TanaPemandangan Monas dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin (29/7/2019). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.)
Lebih lanjut, Seto menilai masalah polusi udara tak terlepas dari sumber polusinya. Menurutnya, sumber utama polusi udara di Jakarta adalah kendaraan bermotor. Menurutnya salah satu langkah utama yang perlu dilakukan adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Seto mengatakan Pemprov harus berani mewajibkan masyarakat menggunakan kendaraan umum. Ia meyakini jika langkah tersebut diterapkan, maka polusi yang mencemari udara Jakarta beberapa waktu terakhir ini akan berkurang signifikan.

"Minimal 50 persen akan berkurang, kajian dari saya lupa kemarin, sekitar 40-50 persen akan berkurang. Kalau penggunaan angkutan umum 'digalakkan' akan berkurang," ujarnya.


Perbandingan Jakarta dan Surabaya

Jakarta menjadi sorotan karena dianggap sebagai kota paling berpolusi di dunia. Situs Airvisual menyebut Jakarta menempati peringkat teratas dengan kondisi udara tidak sehat, dengan Air Quality Index (AQI) di angka 156, pada Selasa (30/7) sore.

Berbeda dengan Jakarta, kondisi udara Kota Surabaya masuk kategori sedang dengan AQI di angka 63, lebih sehat ketimbang ibu kota.

Rentang nilai dari AQI mulai dari 0 hingga 500. Makin tinggi nilainya menunjukkan makin tinggi pula tingkat polusi udara di wilayah tersebut. Skor 0-5 berarti kualitas udara bagus, 51-100 berarti sedang, 101-150 tidak sehat bagi orang yang sensitif, 151-200 tidak sehat, 201-203 sangat tidak sehat, dan 301-500 ke atas berarti berbahaya.

Pemerintah Kota Surabaya melalui Kepala Seksi Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup DLH Kota Surabaya Ulfiani Ekasari memastikan, hasil pantauan harian pihaknya, Surabaya memiliki indeks standar pencemaran udara (ISPU), di angka 50-60.

Rentang nilai ISPU, kata Ulfiani terdiri dari lima kategori, di antaranya nilai 0-50 kategori baik, nilai 51-100 kondisi sedang, nilai 101-199 masuk kategori tidak sehat, nilai 200-299 masuk kategori sangat tidak sehat dan nilai lebih dari 300 masuk kategori berbahaya.

"Artinya kalau di Surabaya itu sehat. (ISPU) Surabaya itu antara baik (0-50) dan sedang (51-100)," kata Ulfiani, saat dikonfirmasi, Selasa (30/7).

Atasi Polusi Udara, BPPT Minta Pemprov Jakarta Tak Hanya TanaWali Kota Surabaya Tri Rismaharini telah menanam tumbuhan lidah mertua sejak lama sebelum Jakarta. (CNN Indonesia/Farid)
Ulfiani mengatakan kualitas udara kategori sehat itu sudah terjadi di Kota Pahlawan, sejak lima tahun yang lalu. Menurutnya perbaikan itu pun terus meningkat setiap tahun.

Masyarakat, kata Ulfa, juga bisa memantau kondisi kualitas udara Kota Surabaya, melalui layar ISPU yang disediakan di Jalan Pemuda dan Jalan Ir. Soekarno, Surabaya. Ia mengatakan tiap hari DLH selalu memperbarui informasi tersebut.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Pemkot Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan ada sejumlah faktor yang membuat kualitas udara di Surabaya menjadi baik.

Hal itu antara lain, ruang terbuka hijau yang terus bertambah tiap tahun di Surabaya. Eri mengatakan jumlah taman di Surabaya sendiri telah mencapai 500 lahan. Jumlah itu akan bertambah lagi karena pihaknya berencana membangun 20 taman pada rahun ini.


Banyaknya taman yang dibuka Pemkot Surabaya itu, kata Eri, sangat memberikan dampak positif terhadap kualitas udara. Di tambah lagi pelbagai jenis tanaman yang ditanam di setiap sudut jalan maupun taman di Surabaya, seperti tabebuya dan lidah mertua.

Eri mengatakan sejak 2012 lalu Pemkot Surabaya juga telah melakukan upaya mengatasi polusi udara di jalur-jalur utama padat kendaraan dengan menanam tumbuhan lidah mertua di pedestrian jalan.

"Tahun 2012 kita sudah menaruh (lidah mertua) di jalan untuk penyerapan polusi udara tinggi. Pemanfaatannya kita tanam (lidah mertua) ke tong bekas yang dicat warna-warni. Penyerapannya sangat tinggi terhadap karbon dioksida," kata Eri.

Kemudian, Eri mengatakan hal itu juga ditunjang kebijakan Dinas Perhubungan yang selalu mengadakan tes terhadap polusi kendaraan dengan melakukan uji emisi.

Di samping itu, kualitas udara yang baik di Kota Surabaya tersebut juga tak bisa lepas dari kesadaran masyarakat yang peduli pada kebersihan kotanya dengan melakukan pengelolaan sampah.

"Kesadaran terhadap lingkungan ini kita jalankan sejak Bu Risma masih menjabat kepala dinas kebersihan. Bu Risma ikut mengedukasi masyarakat untuk peduli terhadap kualitas udara dan bagaimana dengan pengelolaan sampah, itu yang sebenarnya kita terapkan," katanya.


[Gambas:Video CNN] (frd/pmg)