Saiful menyebut itu dapat dilihat dari kasus penangkapan dan penahanan Politikus Partai Gerindra Ahmad Dhani dalam kasus 'ujaran idiot'.
"[Ucapan] 'idiot' itu biasa aja lah, jangan terlalu baperan (terbawa perasaan) itu. Maksud saya dalam demokrasi biasa aja, seperti itu harusnya. Tapi lagi-lagi kelas kita masih rendah, [sementara] yang kita tuntut demokrasi yang hebat," ujar Saiful usai acara 'Meredupnya Demokrasi di Indonesia' di Kantornya, Menteng, Minggu (4/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Saiful menuturkan ada faktor lain yang menyebabkan demokrasi mengalami kemunduran. Seperti di antaranya ialah kuatnya diskriminasi kalangan minoritas terutama soal keagamaan, pengekangan kebebasan sipil, dan kebebasan berkumpul yang berkaitan dengan kasus masa lalu yang tidak terlindungi.
Sejumlah aktivis lingkungan juga dikriminalisasi karena memprotes pembangunan sejumlah industri yang dianggap merusak lingkungan. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Aturan hukum yang merupakan bagian dari kebebasan sipil, menurut dia, terlihat buruk. Terutama berkaitan dengan perlakuan penegak hukum terhadap warga negara yang diduga melanggar hukum yang dinilainya melanggar prinsip hak asasi manusia.
"Terhadap ini baru mencapai 25 persen kinerjanya," pungkasnya.
"Ada asumsi di elite politik bahwa gelombang konservativisme diskriminatif itu besar dan berpengaruh sehingga bisa mengancam posisi politik elite itu bila mereka bersikap tegas," ujarnya.
Atas dasar ini, Saiful memandang ke depan harus ada kepemimpinan strategis di tingkat pusat hingga daerah yang mengedepankan prinsip-prinsip kesetaraan. Selain itu, perlu ada pembenahan aturan yang masih memberikan celah bagi praktik diskriminatif.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Demokrasi Indonesia pada 2018 mencapai 72,39 poin, atau meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 72,11 poin.
Indeks Demokrasi ini BPS melihat tiga aspek utama yang terdiri dari kebebasan sipil, hak-hak politik, dan lembaga demokrasi.
Selain itu, variabel kebebasan berkeyakinan mengalami penurunan sepanjang 2018. Yakni, dari yang sebelumnya 84,28 menjadi 82,86 persen.
[Gambas:Video CNN] (ryn/arh)
Sejumlah aktivis lingkungan juga dikriminalisasi karena memprotes pembangunan sejumlah industri yang dianggap merusak lingkungan. (
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi