Surat desakan kepada Jokowi itu menggarisbawahi persoalan pelaporan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) para capim KPK. Pansel dianggap tidak mewajibkan LHKPN kepada para calon yang mendaftar.
"Suratnya biasa-biasa saja karena isi suratnya juga biasa-biasa saja, bukan permintaan yang aneh. Isi suratnya, kami mengatakan bahwa ada kewajiban-kewajiban hukum khususnya di dalam UU KPK tentang kewajiban melapor LHKPN," ujar Ketua Umum YLBHI Asfinawati saat konferensi pers di Kantor ICW, Kalibata, Selasa (6/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Feri menjelaskan, LHKPN merupakan kewajiban hukum yang diatur setidaknya dalam delapan peraturan perundang-undangan dan kebijakan negara dengan maksud untuk mengukur integritas pejabat negara.
Satu di antaranya tertera pada Undang-undang Nomor 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Aturan itu menyebut kewajiban melapor LHKPN juga dikenakan terhadap calon penyelenggara negara. Hal tersebut bertujuan untuk menguji transparansi dan integritas calon.
"Hingga hanya calon yang berintegritas saja yang dapat mengikuti proses pemilihan," tukas dia.
"Dan kalau dilihat dari data yang ada variasi calon-calon lain yang totalnya 27 orang, jadi yang sudah melaporkan kekayaannya ada 27 orang," kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Senin (5/8).
Meski 27 orang itu tercatat sudah melaporkan harta kekayaannya, tidak semuanya mematuhi aturan pelaporan periodik. Diketahui setiap tahun di rentang 1 Januari hingga 31 Maret 2019 penyelenggara negara wajib menyerahkan LHKPN.
"Terdapat sejumlah PN yang pernah melapor, namun tidak mematuhi aturan pelaporan Periodik setiap tahun, khususnya Tahun 2019. Baik yang tidak lapor periodik ataupun terlambat dari waktu seharusnya," pungkas Febri.
[Gambas:Video CNN] (ryn/osc)