Moeldoko Sebut TNI Kecolongan jika Benar Enzo Pendukung HTI

CNN Indonesia | Sabtu, 10/08/2019 17:11 WIB
Moeldoko Sebut TNI Kecolongan jika Benar Enzo Pendukung HTI Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Surabaya, CNN Indonesia -- Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan taruna Akmil keturunan Prancis bernama Enzo Zenz Allie, berpeluang diberhentikan jika ia benar menjadi pendukung gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

"Oiya kalau itu nyata-nyata itu pasti dikeluarkan, itu risikonya, apalagi di pendidikan ya, itu pasti," kata Moeldoko, ditemui di Surabaya, Sabtu (10/8). 


Pernyataan Moeldoko ini menjawab ucapan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, yang menyebut TNI kecolongan, karena meloloskan Enzo.


Menurut Moeldoko, kecolongan itu bisa saja terjadi dalam tubuh TNI, sebab dalam tahap awal calon taruna hanya mengikuti tes fisik dan psikologi.

Namun, dalam prosesnya nanti TNI sudah memiliki sistem pengawasan personel yang ketat dalam jenjang pendidikan. 

"TNI itu mengenal apa itu namanya penelitian personel yang bertahap dan berlanjut, itu nanti akan dilihat dari waktu ke waktu, apalagi dalam pendidikan itu akan diikuti dengan baik," kata dia. 

Penelitian dan pengamatan personel tersebut kata Moeldoko dibuat dengan sangat detil. Bahkan seluruh perilaku dan aktivitas taruna dicatat dari menit ke menit. Hal itu jugalah yang dialami langsung oleh dirinya saat masih menjadi taruna. 

[Gambas:Video CNN]

"Di taruna itu saya baru sadar setelah saya lulus, saya cek file saya, (tertulis) Moeldoko jam sekian bangun, kegiatannya satu persatu, berikutnya jam 07.05 senjatanya kotor, ditulis sama pelatih itu, saya baru sadar setelah lulus file-nya saya baca, jadi enggak bakalan lolos itu selama pendidikan sangat-sangat ketat ya," ujarnya. 

Dari catatan tersebut, kata dia, bila suatu saat nanti taruna yang terlanjur masuk, namun terindikasi memiliki paham radikal atau melakukan hal mencurigakan lainnya, maka bisa saja di tengah pendidikan diberhentikan.

"Jika terlanjur masuk atau kecolongan, bisa itu terjadi, karena (tes) psikologi itu sulit melihat orang yang contohnya biasa mencuri, itu sulit (dideteksi) enggak bisa dilihat dari psikologi biasa, kita di taruna sering ada begitu. Begitu dia melakukan sesuatu di kampus di Akmil maka saat itu juga akan dikeluarkan, jadi penelitian personel itu berjalan terus menerus di lingkungan TNI," katanya.


Kecolongan semacam itu, kata Moeldoko, pernah terjadi sebelumnya. Ia mencontohkan beberapa waktu silam ada keturunan pendukung PKI masuk Akmil. Setelah terbukti menurut catatan penelitian, taruna tersebut langsung diberhentikan. 

"Dulu orang yang masuk taruna terindikasi ada yang ideologi komunis PKI ya dari beberapa keturunan itu akan ketahuan setelah sekian lama, mereka ada catatanya, harus bagaimana, diapakan, itu ada, gitu ya," katanya. 

Sebelumnya, viral di media sosial foto Enzo sedang memegang bendera bertuliskan kalimat tauhid. Bendera itu identik dengan HTI yang sudah dibubarkan oleh pemerintah dua tahun lalu. Enzo bersama ibunya pun disebut-sebut simpatisan HTI dan pendukung khilafah.


Namun, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sendiri menyatakan Enzo memenuhi syarat untuk menjadi taruna Akmil. Dia menyebut Enzo adalah WNI dan telah lolos syarat baik dari tes fisik mau pun psikologi. (frd/dea)